Yen Kian Perkasa Di Tengah Penurunan Yield Obligasi AS

USD/JPY menjadi salah satu pasangan mata uang yang bergerak paling volatile dalam sepekan terakhir. Penurunan yield obligasi pemerintah AS memicu kemerosotan lanjutan dalam nilai tukar USD, sehingga yen menguat sampai kisaran 134.30-an pada akhir sesi New York (3/13/2022).

Yen Kian Perkasa Di Tengah Penurunan Yield Obligasi AS

Nilai tukar yen Jepang sangat sensitif terhadap perubahan dalam yield obligasi, karena kesenjangan suku bunga Jepang dan Amerika Serikat yang terlalu besar. Jepang memiliki suku bunga terendah di dunia, karena mempertahankan kebijakan bunga di bawah nol di tengah tren pengetatan moneter secara global. Di sisi lain, Amerika Serikat justru memimpin tren kenaikan suku bunga dunia.

Suku bunga AS tahun ini bahkan sempat mencapai rekor tertinggi sejak krisis keuangan 2008, sehingga yield obligasi AS terkatrol makin tinggi dan dolar AS kian terapresiasi. Sayangnya, situasi mulai berubah dalam sebulan terakhir.

Data-data ekonomi AS mulai melemah, sedangkan Federal Reserve AS mengungkapkan rencana untuk memperlambat kenaikan suku bunganya mulai bulan Desember ini. Data Non-farm Payroll AS malam ini menunjukkan kinerja yang lebih baik daripada ekspektasi, tetapi pasar tetap terpaku pada potensi perubahan kebijakan The Fed. Hal itu memicu kejatuhan yield obligasi AS, mempersempit kesenjangannya dengan yield obligasi Jepang.

Baca Juga:   GDP Kanada Mengecewakan, USD/CAD Melonjak

“Risiko utama bagi USD/JPY adalah bahwa yield US Treasury 10Y gagal untuk menemukan support tambahan pada 3.50%,” kata Francesco Pesole, pakar strategi forex di ING, “Reli obligasi lebih lanjut dapat mendorong penembusan ke bawah MA-200 Day pada 134.50 dan membuka potensi penurunan lebih lanjut untuk USD/JPY. Walaupun, pasar mungkin kesulitan bertahan dengan suku bunga di bawah 3.50% dalam waktu lama pada situasi saat ini.”

Yen juga memperoleh sokongan dari dalam negeri. Naoki Tamura, seorang anggota dewan kebijakan BoJ, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa kebijakan moneter longgar yang diberlakukan selama ini perlu dievaluasi dalam waktu dekat. Ini merupakan sinyal hawkish yang perlu diwaspadai oleh para trader yen selama beberapa bulan ke depan.

Raffi Boyadjian dari XM menyatakan, “Naoki Tamura mengipasi spekulasi seputar perubahan kebijakan hari ini dengan menyarankan bahwa mungkin akan segera tiba waktunya untuk melakukan peninjauan atas kerangka kebijakan. Bank (BoJ) di masa lalu sering mengumumkan perubahan kebijakan besar setelah peninjauan serupa.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.