USD/JPY Tumbang Gegara Aksi Ambil Untung

Aksi ambil untung dan penurunan minat risiko mewarnai pasar forex hari Kamis ini (21/10/2021), mengakibatkan koreksi cukup dalam setelah sejumlah pasangan mata uang mencetak rekor baru pada awal pekan. USD/JPY anjlok sekitar 0.5 persen ke kisaran 113.60-an, sementara AUD/USD dan NZD/USD masing-masing melemah sekitar 0.4 persen ke kisaran 0.7490-an dan 0.7160-an.

USDJPY Tumbang Gegara Aksi Ambil Untung

Pasangan mata uang USD/JPY sempat mencetak rekor tertinggi empat tahun pada hari Rabu, karena reli yield obligasi pemerintah AS membuat aset-aset berdenominasi USD menjadi lebih menarik daripada yen Jepang. Situasi ini membuat seorang pejabat Jepang kemarin mengungkapkan urgensi memantau perkembangan nilai tukar.

Jepang selama beberapa tahun terakhir menerapkan kebijakan yang cenderung menekan nilai tukar yen. Namun, pelemahan yen selama beberapa pekan terakhir justru beriringan dengan kenaikan harga komoditas energi. Kombinasi dari kedua hal itu dikhawatirkan akan semakin membebani masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah dan menggagalkan rencana perdana menteri baru Jepang untuk meningkatkan pemerataan kekayaan.

Kurs USD/JPY tak bereaksi terlalu signifikan menanggapi pernyataan pejabat Jepang tersebut, karena bank sentral Jepang (BoJ) belum menyampaikan pandangannya tentang situasi ini. Namun, kurs dolar-yen mendadak tumbang dalam perdagangan hari ini tanpa adanya katalis tertentu,

Baca Juga:   AS Liburan, Dolar Melemah Karena Kemajuan Perundingan AS-China

Jeremy Stretch, kepala strategi FX G10 di CIBC, mengatakan bahwa kelemahan dalam ekuitas Asia dan kemunduran minat risiko mungkin berperan dalam pergerakan ini. Bursa saham Asia memang terkoreksi karena munculnya kekhawatiran baru tentang pelemahan sektor properti China menyusul kebangkitan kembali kekhawatiran atas gagal bayar Evergrande. Namun, Stretch meyakini kemunduran ini hanya sementara sehingga AUD dan NZD akan melanjutkan kenaikan lagi.

“Kita telah menyaksikan reli signifikan dalam beberapa cross yen. Aussie-yen menjadi suatu katalis nyata. Jadi kita hanya menyaksikan sedikit konsolidasi karena risiko mengalami sedikit peningkatan tekanan dalam semalam,” kata Stretch.

Sementara itu, kabar baru tentang isu utang Evergrande mengemuka pada sesi Eropa. Perusahaan properti raksasa China itu berhasil mendapatkan perpanjangan tenggat waktu selama lebih dari tiga bulan untuk pembayaran sejumlah utangnya yang terancam gagal bayar. Kabar tersebut tidak sepenuhnya mengentaskan risiko gagal bayar utang Evergrande, karena krisis serupa telah meluas ke beberapa perusahaan lain yang bergerak di sektor properti China.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply