analisaforex

Upaya Rebound Dolar Terhalang Data NFP Yang Mengecewakan

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) sempat meroket nyaris 1 persen ke kisaran tertinggi harian pada 89.96. Namun, posisinya mundur lagi ke kisaran 89.80-an pada sesi New York menyusul rilis data Nonfarm Payroll (NFP) yang lebih buruk dari ekspektasi pasar. Mata uang-mata uang mayor lain pun memangkas pelemahannya terhadap USD.

Upaya Rebound Dolar Terhalang Data NFP Yang Mengecewakan

US Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa non-farm payroll berkurang 140k pada bulan Desember 2021, padahal konsensus ekonom sempat memperkirakan pertambahan sebanyak 71k. Data ini sekaligus merupakan penurunan pertama sejak April 2020 dan menandakan dampak perintah “stay-at-home” demi membendung gelombang kedua pandemi COVID-19.

“Sektor yang terdampak paling parah pada bulan Desember adalah leisure dan hospitality yang kehilangan 500k pekerjaan, sementara payroll pemerintah jatuh 45k. Ketenagakerjaan dalam perdagangan ritel secara mengejutkan bertambah 121k, dan ada kenaikan dalam sektor produksi barang termasuk konstruksi dan manufaktur,” ungkap Katherine Judge, seorang ekonom dari CIBC Capital Markets, “Dikarenakan penyebaran kasus virus yang cepat terus, kemungkinan tidak ada perbaikan banyak dalam kondisi pasar tenaga kerja selama beberapa bulan awal 2021.”

Baca Juga:   Dolar Dari Tertinggi Baru-Baru Ini Menjelang Kenaikan Suku Bunga Fed

Dalam laporan ketenagakerjaan yang sama, US BLS menyebutkan tingkat pengangguran AS tetap berada pada level 6.7 persen. Angka tersebut lebih baik dari ekspektasi, analis menilai hal ini bukan sesuatu yang bagus karena ada stagnasi antara November-Desember.

“Sektor leisure tidak bisa mulai pulih sebelum pembatasan COVID dicabut, dan itu kemungkinan tidak akan dimulai setidaknya sebelum akhir Februari, dengan asumsi kami tepat dalam pandangan kami bahwa kasus akan mulai turun akhir bulan ini, mengurangi tekanan pada rumah sakit-rumah sakit bulan depan. Pemulihan penuh kemungkinan harus menunggu hingga paruh kedua, di mana kami memperkirakan akan ada gelombang masif permintaan pasca-COVID,” papar Ian Shepherdson dari Pantheon Macroeconomics.

Dolar AS menghadapi aksi jual terbatas terhadap beragam mata uang mayor setelah rilis data ketenagakerjaan ini. Namun, hitungan pekanan menunjukkan greenback masih menguat sekitar 0.8 persen versus yen Jepang. Pound juga kehilangan keunggulannya versus dolar AS, karena Inggris kembali mengetatkan lockdown nasionalnya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply