analisaforex

Sentimen Dorong Poundsterling Meroket, Outlook Masih Rentan

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang GBP/USD melonjak lebih dari 0.8 persen ke kisaran 1.2290 dalam perdagangan hari ini (26/5) sehubungan dengan perbaikan sentimen risiko di pasar keuangan global. Pound juga terpantau menguat pesat versus Euro dan Yen Jepang. Akan tetapi, Poundsterling masih dibayangi oleh spekulasi seputar suku bunga negatif.

Sentimen Dorong Poundsterling Meroket

Bursa saham global mengalami reli di tengah antusiasme pasar menyambut normalisasi ekonomi. Berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika yang sempat melaksanakan lockdown, hampir serentak melonggarkannya antara akhir Mei-awal Juni. Hal ini mendorong perbaikan sentimen pasar dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset keuangan berisiko lebih tinggi.

Nilai tukar Pound turut terdongkrak berkat arus risk-on tersebut. Akan tetapi, analis para pakar di Lloyds Bank menunjukkan peningkatan risiko ke depan. Risiko terutama bersumber dari kebijakan bank sentral Inggris (BoE) serta potensi kegagalan negosiasi dagang pasca-brexit antara Inggris-Uni Eropa.

“GBP telah mengalami roller-coaster. Selama Maret, seiring eskalasi krisis COVID-19 menjadi pandemi global, GBP/USD mengalami salah satu penurunan terparahnya dalam sejarah,” kata Gajan Mahadevan, seorang pakar strategi di Lloyds Bank.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 25/11/2019 - WALHI SEBUT REGULASI LINGKUNGAN BUKAN PENGHAMBAT INVESTASI

“Dengan kembalinya ketenangan di pasar keuangan, ditunjukkan pada peningkatan harga ekuitas dan jatuhnya indeks volatilitas, korelasi antara GBP/USD dan Indeks Risiko Lintas Aset kami telah jatuh (dari +0.85 menjadi +0.61). Walaupun sentimen risiko yang lebih luas tetap menjadi penggerak penting, perubahan ini menandakan bahwa fokus investor mungkin berpindah ke yang lain.”

“Apabila perhatian pasar terus bergeser dari virus Corona ke sumber risiko lain, narasi terkait suku bunga bank negatif serta tantangan berkelanjutan dalam negosiasi antara Inggris dan Uni Eropa bisa jadi membebani GBP/USD.”

Pekan lalu, sejumlah pejabat bank sentral Inggris menyampaikan wacana suku bunga negatif sebagai salah satu opsi kebijakan moneter longgar yang akan dilaksanakan demi menopang kondisi perekonomian. Akan tetapi, pelaku pasar tidak menyukai wacana tersebut.

“Secara pribadi, saya tak mengetahui suatu negara di mana suku bunga negatif merupakan ide yang lebih buruk daripada Inggris,” kata Kit Juckes ari Societe Generale, “Manfaat ekonominya diragukan, tetapi kekuatan bauran suku bunga negatif dan quantitative easing masif tampaknya jelas untuk melemahkan mata uang, dan jika Pound jatuh cukup jauh, hal itu akan membuat quantitative easing jadi makin sulit.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply