Risiko Resesi Eropa Menyeruak, Rekomendasi Jual Euro Makin Marak

Pasangan mata uang EUR/USD sempat mencapai rekor tertinggi satu bulannya dalam perdagangan tengah pekan ini. Namun, posisi euro mundur sekitar 0.7 persen sampai kisaran 1.0250-an terhadap dolar AS saat berita ditulis (12/8/2022). Para analis menilai reli euro telah kehabisan energi dan sudah waktunya menurun lagi.

Rekomendasi Jual Euro Makin Marak

Mark McCormick, Kepala Strategi FX di TD Securities, termasuk salah satu analis yang merekomendasikan jual EUR/USD baru-baru ini. Ia menilai peningkatan EUR/USD sebelumnya terjadi berkat pasar yang makin “bersahabat” dengan risiko, sebagai hasil dari perbaikan dalam beberapa data ekonomi dan penurunan tekanan inflasi. Akan tetapi, kenaikan euro sudah berlebihan.

“Penurunan inflasi inti AS baru-baru ini menggarisbawahi bahwa kita kemungkinan sudah melewati puncak inflasi dan kekhawatiran terhadap stagflasi,” kata McCormick, “Meski demikian, kami pikir aset-aset berisiko belum sepenuhnya aman (dari gejolak), menandakan sedikit lebih banyak waktu untuk mengharapkan kondisi keuangan dan ekspektasi pertumbuhan yang positif dan tangguh.”

McCormick mengakui bahwa penurunan tekanan inflasi merupakan salah satu syarat penting untuk menentukan “puncak” dolar AS. Namun, ia menambahkan, “Kunci lain yang menjadi bahan lebih penting adalah prospek pertumbuhan global. Terkait faktor itu, kami pikir saat ini belum waktunya untuk melepas dolar, meskipun di tengah latar belakang penurunan eksposur posisi long USD baru-baru ini.”

Baca Juga:   BERITA SAHAM RABU 13/10/2021 - PRESIDEN JOKOWI BERENCANA HENTIKAN EKSPOR CPO

Brent Donnelly, CEO Spectra Markets, juga sepakat bahwa kenaikan EUR/USD kemarin telah membawanya ke “lokasi yang bagus untuk memasang posisi short EUR”. Ia menilai selisih bunga menunjukkan tiadanya faktor bullish bagi EUR/USD dari segi fundamental. Oleh karena itu, Spectra Markets mengantisipasi penurunan EUR/USD kembali ke 1.0166.

Para analis dari Nordea Markets bahkan memberikan perkiraan yang lebih pesimistis lagi terkait Single Currency. Mereka memprediksi EUR/USD bakal terperosok ke bawah level paritas lagi dan menyentuh kisaran 0.9700 pada akhir tahun.

Menurut Nordea, kenaikan harga energi dan kelangkaan gas alam memperburuk prospek ekonomi Eropa hingga berpotensi memicu resesi mulai semester kedua tahun ini. Di sisi lain, perekonomian AS terbukti lebih tangguh meski telah menorehkan pertumbuhan negatif selama dua kuartal. Tingkatt suku bunga The Fed saat ini dan ekspektasinya di masa depan juga lebih tinggi daripada ECB.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.