analisaforex

Riset Vaksin COVID-19 Terhambat, Dolar AS Menguat

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) melejit lebih dari 0.5 persen ke kisaran 93.53 dalam perdagangan hari ini (14/10), menyusul kabar bahwa Johnson & Johnson mensuspen riset vaksin COVID-19. Macetnya diskusi seputar stimulus fiskal AS juga mendorong investor untuk mengalihkan dana dari ekuitas ke aset-aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Dolar AS Menguat

Pada sesi New York kemarin, Johnson & Johnson mengumumkan bahwa pihaknya menghentikan sementara uji vaksin tahap ketiga karena salah satu partisipan menderita penyakit yang tak dapat dijelaskan. Situasi ini mirip dengan yang dihadapi oleh AstraZeneca pada bulan September. Pada saat itu, uji vaksin tahap ketiga AstraZeneca-Oxford University juga sempat disuspen karena temuan penyakit tak terduga pada peserta riset, kendati dilanjutkan kembali beberapa hari kemudian.

Belum diketahui sampai kapan Johnson & Johnson akan menyetop risetnya. Kendala ini mendorong pelaku pasar untuk beralih ke aset-aset safe haven. Apalagi parlemen dan pemerintah AS belum juga mencapai kesepakatan terkait stimulus tambahan yang sangat dibutuhkan untuk menanggulangi dampak COVID-19 terhadap perekonomian. Aksi jual pasar mendorong indeks Dow Jones tumbang lebih dari 0.50 persen sekaligus mendongkrak nilai tukar dolar AS.

Baca Juga:   Yen Memegang Keuntungan Di Asia Karena Permintaan Safe Haven, Indeks Dolar Turun

“Banyak faktor mengarah pada kenaikan lebih jauh bagi dolar,” ungkap Masafumi Yamamoto, kepala pakar strategi mata uang di Mizuho Securities, “Stimulus AS kemungkinan tidak akan datang hingga setelah pemilu. People’s Bank of China berupaya menghalangi kenaikan yuan. Tak ada alasan untuk membeli euro, dan ada banyak posisi long euro yang perlu dilepas.”

Beberapa mata uang rival AS lain juga menghadapi kemelut yang mengurangi minat beli pasar. Nilai tukar GBP/USD terperosok ke bawah ambang 1.3000 menjelang KTT Uni Eropa lantaran berkurangnya ekspektasi untuk pencapaian kesepakatan dagang Inggris-UE dalam bulan ini. AUD/USD menanjak tipis sekitar 0.3 persen dalam perdagangan hari ini, tetapi masih tertekan oleh memburuknya hubungan diplomatik Australia dengan China.

Terlepas dari beragam faktor bullish bagi Greenback tersebut, sebagian analis mengingatkan bahwa nilai tukar kemungkinan terus bergejolak menjelang pemilu presiden AS pada awal bulan November mendatang. Kenaikan elektabilitas petahana Presiden AS Donald Trump berpeluang mendorong penguatan dolar AS. Sedangkan peningkatan popularitas rivalnya, Joe Biden, bakal terus menekan nilai tukar Greenback.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply