analisaforex

Reli Dolar Patah Akibat Penurunan Yield Obligasi AS

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) merosot lebih dari 0.5 persen hingga mendekati kisaran 90.00 lagi dalam perdagangan hari ini (13/1), seiring dengan penurunan yield obligasi US Treasury. Greenback pun memangkas rebound yang telah diraihnya terhadap sebagian besar mata uang mayor sejak akhir pekan lalu. Saat berita ditulis pada awal sesi New York, USD masih mencetak candle bullish versus sebagian besar mata uang mayor, tetapi panjang candle sudah lebih pendek dibanding saat reli kemarin.

Reli Dolar Patah Akibat Penurunan Yield Obligasi AS

Pada hari Selasa, Presiden The Fed Kansas City Esther George mengatakan bahwa ia menilai The Fed tidak akan bereaksi meskipun inflasi melampaui target bank sentral yang dipatok pada tingkat 2 persen. Opini ini menghalangi kenaikan yield obligasi AS lebih lanjut, karena ekspektasi suku bunga hanya akan naik jika bank sentral ingin mengendalikan inflasi.

Sementara itu, yield obligasi US Treasury bertenor 10-tahunan jatuh sekitar 7 basis poin. Yield menjauh dari rekor tertinggi 10-bulannya, sehubungan dengan lelang US Treasury bertenor 10-tahunan senilai USD38 Miliar yang terbukti sukses dengan permintaan tinggi.

Baca Juga:   Fed “Takut, Dunia Pasar Keuangan : Pemotongan Researcht”

“Dengan ekspektasi suku bunga The Fed pada rekor terbawah, kenaikan apa pun dalam yield AS akan tetap menjadi hasil dari ekspektasi kenaikan inflasi atau premi jangka waktu, sehingga menjadikan kami percaya diri pada prediksi dolar bearish kami,” ungkap analis dari ING dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters.

Data inflasi konsumen Amerika Serikat yang dirilis malam ini menunjukkan pertumbuhan CPI 0.4 persen dan Core CPI 0.1 persen (Month-over-Month) pada bulan Desember, selaras dengan ekspektasi pasar. Inflasi umum menguat dari 1.2 persen menjadi 1.4 persen pada periode terakhir tahun lalu, tetapi inflasi inti masih stagnan pada level 1.6 persen (Year-on-Year).

Sejumlah analis mensinyalir data inflasi akan semakin menjadi sorotan pasar dalam bulan-bulan ke depan. Suku bunga negara-negara maju kini sudah berada dalam level terendahnya, sehingga proyeksi kenaikan suku bunga dapat menjadi faktor penting yang menggerakkan kurs mata uang. Di sisi lain, bank sentral kemungkinan baru akan bersedia menaikkan suku bunga acuan masing-masing apabila sudah menemukan indikasi kenaikan laju inflasi yang berkelanjutan mencapai target atau bahkan lebih tinggi.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply