analisaforex

Proyeksi Hasil Pemilu Senat Georgia Makin Menekan Dolar AS

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) anjlok sekitar 0.5 persen ke kisaran 89.42 dalam perdagangan hari ini (6/1), menanggapi keunggulan para calon anggota Senat dari partai Demokrat dalam pemilu Georgia. Saat berita ditulis pada awal sesi New York, beberapa mata uang mayor mulai melemah terhadap USD. Namun, pasangan mata uang AUD/USD dan NZD/USD masing-masing masih bertengger pada kisaran tertinggi sejak Maret 2018. GBP/USD juga terus berkonsolidasi pada rentang tertinggi yang dihuninya sejak akhir tahun lalu.

Proyeksi Hasil Pemilu Senat Georgia Makin Menekan Dolar AS

The Associated Press menyebut kandidat Raphael Warnock (Dem) menang melawan petahana Kelly Loeffler (Rep), sehingga salah satu dari dua kursi Senat yang diperebutkan dalam pemilu Georgia sudah dipastikan masuk ke kantong Demokrat. Kandidat Demokrat lainnya, Jon Ossoff, terpantau unggul dalam perhitungan sementara versus David Perdue (Rep), tetapi persaingan relatif lebih ketat dan belum dapat dipastikan sekarang.

Para analis umumnya memperkirakan Senat yang dikendalikan oleh Demokrat akan positif bagi pertumbuhan ekonomi global dan aset-aset berisiko lebih tinggi, tetapi bermakna negatif bagi obligasi dan dolar AS. Pasalnya, partai ini mendorong stimulus fiskal lebih besar yang dapat mendorong pertumbuhan jangka pendek tapi meningkatkan defisit anggatan dan defisit perdagangan. Hal ini pula lah yang mengakibatkan pelaku pasar menyoroti pemilu Georgia.

Baca Juga:   BERITA SAHAM JUMAT 27/12/2019 - PTPN VI BERIKAN TALI ASIH ATLET PERAIH MEDALI SEA GAMES 2019

Dalam pemilu kali ini, Georgia akan mengisi dua kursi Senat yang sebelumnya diduduki oleh partai Republik. Apabila kedua kursi Senat untuk Georgia berhasil diambil alih oleh partai Demokrat, ini artinya parlemen AS bakal kompak mendukung kebijakan Presiden AS terpilih Joe Biden.

“Sebuah pemerintahan yang dipimpin Demokrat diperkirakan akan menambah stimulus untuk membantu mengendalikan krisis virus dan… itu artinya akan ada dolar yang lebih lemah,” kata Paul Sandhu dari BNP Paribas Hong Kong. Ia menilai tambahan stimulus fiskal AS juga akan membuat para investor merasa lebih nyaman berinvestasi di luar AS, khususnya negara-negara berkembang.

“Kenaikan pajak dan regulasi tidak akan mengobati lemahnya dolar saat ini,” kata Michael J Kelly dari PineBridge Investments di New York, “Rotasi global keluar dari aset-aset yang berbasis di AS ke Eropa dan negara berkembang akan berlanjut… kita akan segera kembali berfokus pada distribusi vaksin (COVID-19).”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply