Powell Tetap Jadi Ketua The Fed, Dolar AS Stabil

Indeks dolar AS (DXY) bertahan pada kisaran 96.50-an dalam perdagangan hari Selasa ini (23/11/2021), dekat dengan harga penutupannya kemarin. Pelaku pasar menyambut baik keputusan Presiden AS Joe Biden untuk menominasikan Jerome “Jay” Powell agar menjalani periode kepemimpinan keduanya di Federal Reserve.

Powell Tetap Jadi Ketua The Fed Dolar AS Stabil

Menjelang berakhirnya masa jabatan pertama Jerome Powell bulan depan, Gedung Putih sempat menjajaki sejumlah kandidat ketua The Fed. Pesaing terkuat Powell, Lael Brainard, berasal dari partai yang sama dengan Biden tapi terkenal sebagai sosok berpandangan dovish. Di sisi lain, Powell berasal dari partai yang berbeda dengan Biden tapi memiliki pandangan yang lebih hawkish.

Di tengah dilema ini, Joe Biden ternyata menjatuhkan pilihan pada Powell. Menurut orang nomor satu di negeri Paman Sam itu, Powell merupakan sosok yang tepat untuk menenangkan pasar dan memandu kebijakan moneter untuk mencapai full-employment.

“Saya menghargai independsi Jay,” kata Biden, “Pada saat yang bertepatan dengan potensi luar biasa dan ketidakpastian besar bagi perekonomian kita, kita membutuhkan stabilitas dan independensi di Federal Reserve.”

Baca Juga:   Dolar Melemah Terhadap Yen Karena Pertumbuhan Di Cina Melambat

Keputusan Biden mengokohkan posisi greenback. Di samping itu, dolar AS juga tertopang oleh kenaikan yield obligasi AS dan solidnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

“Pasar menerima setiap kisah kekuatan USD yang dapat mereka peroleh dalam lingkungan ini, yang terlihat pada pergerakan setelah penunjukan kembali Powell yang sebelumnya sudah sangat diharapkan,” kata Ima Sammani, analis pasar FX di Monex Europe.

Ulrich Leuchtmann, kepala riset komoditas dan FX di Commerzbank, berpendapat senada. Ia menilai keputusan Biden untuk mempertahankan Powell di bangku Ketua The Fed cenderung menguntungkan dolar, karena hal itu menunjukkan penghargaan sang Presiden AS kepada independensi bank sentral dari pemerintahan.

Sementara itu, NZD/USD menjadi pasangan mata uang berkinerja terburuk hari ini. Bank sentral New Zealand (RBNZ) diharapkan bakal menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat kebijakan besok pagi, tetapi mendadak muncul spekulasi bahwa kenaikannya bakal mencapai 50 basis poin. Spekulasi tersebut memicu kenaikan yield AS jangka pendek versus yield obligasi NZ dengan tenor yang sama, sehingga justru memicu pelemahan NZD/USD.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply