Powell: Isu Inflasi vs Pengangguran Jadi Tantangan The Fed

Beragam isu mencuat pasca-pandemi, termasuk tapering dan prospek kenaikan suku bunga. Satu lagi mulai mengemuka belakangan ini, yakni kekhawatiran terkait stagflasi.

Stagflasi merupakan situasi ketika inflasi tinggi dan suku bunga meningkat, tetapi tingkat pengangguran tinggi dan pertumbuhan cenderung lambat. Pound beberapa waktu lalu telah tersangkut isu ini akibat krisis energi yang melanda Inggris. Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, kemarin juga menyinggungnya saat menghadiri sebuah forum ECB.

Jerome Powell Isu Inflasi vs Pengangguran Jadi Tantangan The Fed

Jerome Powell mengatakan bahwa dilema dalam menyelesaikan masalah inflasi dan pengangguran yang sama-sama tinggi merupakan masalah paling urgen yang dihadapi oleh The Fed saat ini. Ia mengakui adanya konflik dalam upaya pencapaian target bank sentral terkait inflasi dan ketenagakerjaan.

The Fed selama ini mengharapkan stabilitas laju inflasi dengan harapan kenaikan harga-harga berkelanjutan dapat menunjang penyerapan tenaga kerja. Namun, realita saat ini justru inflasi dan pengangguran sama-sama tinggi. AS terakhir kali mengalami fenomena “stagflasi” seperti itu pada era 1970-an.

“Ini bukan situasi yang telah kita hadapi untuk waktu yang sangat lama dan ini adalah sebuah situasi di mana ada ketegangan antara dua target kita…Inflasi tinggi dan jauh di atas target, tapi tampaknya ada kelonggaran di pasar tenaga kerja,” kata Powell.

Baca Juga:   USD / JPY Lebih Tinggi Menjelang Pertemuan Fed

Jumlah pekerjaan di AS saat ini masih 5 juta lebih rendah dibandingkan saat pra-pandemi. Proyeksi inflasi The Fed terbaru memperkirakan kenaikan harga-harga sampai 4.2 persen tahun ini -lebih dari dua kali lipat target bank sentral yang dipatok pada level 2 persen-. The Fed juga memperkirakan laju inflasi bakal menurun ke kisaran 2.2 persen pada tahun 2022, tetapi Powell agaknya menyimpan keraguan tentang prakiraan itu.

Powell mengatakan bahwa “hipotesis” utama The Fed saat ini adalah bahwa tekanan inflasi akan mengendur dengan sendirinya seiring dengan normalisasi perekonomian global seusai berakhirnya pembatasan pandemi. Namun saat ditanya tentang apa kekhawatiran utamanya saat ini, Powell menyebutkan potensi konflik antara target inflasi dan full-employment. Perkembangan situasi ke depan kemungkinan memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga guna menjinakkan inflasi, padahal target pertumbuhan ketenagakerjaan belum terealisasi.

“Mengelola (kebijakan) melewatinya selama beberapa tahun ke depan adalah prioritas tertinggi dan terpenting dan itu akan sangat menantang,” ujar Powell.

Terlepas dari itu, Powell dan koleganya masih optimistis terhadap prospek pertumbuhan ke depan. Rapat FOMC terakhir menurunkan proyeksi pertumbuhan GDP Amerika Serikat tahun ini, tetapi menaikkan proyeksi untuk tahun 2022.

Baca Juga:   Indeks Dolar Memegang Keuntungan Pada Optimisme AS

“Kami memperkirakan bahwa inflasi mungkin tetap naik memasuki tahun depan lebih lama daripada perkiraan kami sebelumnya,” lanjut Powell, “Tapi pada akhirnya outlook tahun depan diantara saya dan rekan-rekan saya di The Fed adalah tahun yang cukup kuat dengan pertumbuhan di atas rata-rata dan pengangguran mencapai level yang jauh lebih rendah daripada sekarang.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply