Pound Terkoreksi Meski PDB Inggris Pulih Ke Tingkat Pra-Pandemi

Kurs GBP/USD melemah tipis sekitar 0.2 persen ke kisaran 1.3673 pada awal perdagangan sesi New York hari ini (14/1/2022) gegara surutnya aksi jual dolar AS untuk sementara waktu. Data Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris yang cukup menggembirakan telah dirilis pada sesi Eropa, tetapi kurang berpengaruh bagi fundamental Cable.

Pound Terkoreksi Meski PDB Inggris Pulih Ke Tingkat Pra-Pandemi

UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa PDB Inggris bertumbuh 0.9 persen (Month-over-Month) pada November 2021, meningkat pesat dibandingkan pertumbuhan 0.2 persen pada periode sebelumnya. Data-data ini mengonfirmasi bahwa perekonomian Inggris sudah pulih kembali ke tingkat pra-pandemi. Walaupun data bulan Desember kemungkinan menyeret turun total pertumbuhan kuartal IV/2021, prospek ekonomi Inggris tetap tampak lebih cerah.

“Data mengonfirmasi bahwa tingkat aktivitas (ekonomi) sekarang sudah naik kembali ke atas tingkat pra-pandemi,” kata Simon Harvey, kepala analisis FX di Monex Europe, “Sementara kami memperkirakan aktivitas jasa akan melambat memasuki Desember, bukan hanya karena penurunan permintaan untuk aktivitas dengan kontak langsung, tetapi juga memudarnya penjualan ritel karena belanja musiman dimajukan ke November untuk menghindari gangguan pasokan menjelang Natal, (tetapi) momentum perekonomian yang lebih kuat menjelang fase Omicron pada bulan Desember dan Januari merupakan hal yang positif bagi pasar keuangan.”

Baca Juga:   Berita Saham SMGR RABU 14/02/2018

Sayangnya, faktor-faktor plus tersebut tak mampu menunjang outlook perekonomian Inggris dalam kurun waktu lebih panjang. Sejumlah masalah krusial membayangi lansekap ekonomi Inggris, termasuk ekspektasi kenaikan suku bunga, potensi pergantian Perdana Menteri, dan kenaikan pajak.

“Sinyal-sinyal terbaru bahwa gelombang Omicron mulai memudar menandakan bahwa PDB kemungkinan akan rebound pada Februari dan Maret. Namun, pertumbuhan kemudian akan terkekang oleh dampak dari harga utilitas dan pajak yang lebih tinggi mulai tanggal 1 April. Kami memperkirakan PDB (Inggris) tahun ini akan lebih lemah daripada prakiraan konsensus,” kata Paul Dales, kepala ekonom Inggris di Capital Economics.

Sementara itu, skandal politik yang semakin rumit tengah membelit PM Inggris Boris Johnson. Penolakan Johnson untuk mengundurkan diri telah memicu badai protes baru atasnya, sehingga muncul spekulasi kalau mungkin lebih baik jika PM diganti -karena gejolak politik bakal terus berlanjut selama Johnson tetap menjabat-.

“Dengan banyak pertanyaan tersisa seputar pesta di Downing Street No.10 pada masa lockdown COVID-19, maka hari-hari mendatang, jika bukan beberapa pekan, kemungkinan akan ditandai oleh lebih banyak gejolak politik,” kata Ruth Gregory, Ekonom Inggris Senior di Capital Economics.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.