Pound Sterling Perkasa Di Tengah Skandal PM Inggris

Kurs GBP/USD dalam perdagangan hari ini (13/1/2022) terus merangsek naik ke rekor tertinggi sejak akhir Oktober 2021 pada kisaran 1.3745. Reli bullish pound sterling tak terhenti walaupun media massa Inggris ramai menggosipkan skandal terbaru yang melibatkan PM Inggris Boris Johnson. Bagi pelaku pasar, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Inggris (BoE) masih menjadi sorotan utama.

Pound Sterling Perkasa Di Tengah Skandal PM Inggris

Pada awal pekan, media massa merilis laporan tentang pesta minum-minum yang diadakan di Kantor Perdana Menteri Inggris di Downing Street No.10 pada tanggal 20 Mei 2020. Acara itu memantik kontroversi, karena digelar dalam masa lockdown nasional Inggris di mana masyarakat dilarang berkumpul lebih dari dua orang di ruang publik.

Pada hari Rabu, Boris Johnson terpaksa meminta maaf dan mengakui bahwa ia telah menghadiri pesta tersebut. Ia sontak dihujani kritik dan himbauan agar segera mengundurkan diri. Himbauan tersebut datang dari tokoh-tokoh partai Konservatif yang dipimpinnya dan juga pentolan partai oposisi.

Boris Johnson sejauh ini masih menolak untuk mengundurkan diri. Tapi seandainya ia mengundurkan diri, Inggris mungkin akan tetap mampu mempertahankan stabilitas politik. Pemilihan PM pengganti Johnson dapat berlangsung dalam internal partai Konservatif tanpa perlu menggelar pemilu lagi.

Baca Juga:   Optimis Negosiasi Inggris-Uni Eropa Lancar, Sterling Tangguh

“Sementara (Boris Johnson) bisa dibilang menghadapi periode terberat dalam masa jabatannya, pasar tampaknya sangat skeptis untuk memperhitungkan ketidakstabilan politik di Inggris pada saat ini,” kata Francesco Pesole, seorang pakar strategi FX di ING.

Viraj Patel dari Vanda Research mensinyalir ada “rezim politik” yang berbeda untuk Sterling, sehingga GBP tetap tangguh di tengah meningkatnya kemungkinan Boris Johnson tersingkir dari kursi PM.

Terdapat beberapa sebab yang melatarbelakangi situasi ini. Pertama, pasar mungkin menyambut baik Rishi Sunak atau Liz Truss sebagai kandidat pengganti Johnson dari partai Konservatif. Kedua, PM berikutnya tidak akan menggelar pemilu dadakan. Ketiga, risiko brexit sudah memudar. Keempat, Konservatif tetap menguasai kursi mayoritas di parlemen Inggris.

Jeremy Stretch, pakar strategi dari CIBC Capital Markets, menilai pasar forex akan mengesampingkan berita-berita politik ini. Alasannya karena ekspektasi suku bunga BoE lebih penting. Sebagaimana diketahui, pasar kini memperkirakan BoE akan menaikkan suku bunga lagi pada bulan Februari mendatang guna mengatasi lonjakan inflasi yang berkelanjutan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply