analisaforex

Penjualan Ritel AS Loyo, Dolar AS Pertahankan Rebound

Afiliasi IB XM Broker

Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang mayor dalam perdagangan sesi New York tadi malam (15/1), menyusul rilis data penjualan ritel AS yang mengecewakan dan kabar pandemi global yang lebih buruk. Meski demikian, relinya terbatasi oleh pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell tentang konsistensi kebijakan suku bunga rendah ke depan. Indeks dolar AS (DXY) menutup sesi di tengah rentang yang dihuninya sepekan ini pada level 90.25.

Dolar AS Pertahankan Rebound

Biro Sensus AS melaporkan bahwa laporan penjualan ritel Amerika Serikat mencatat pertumbuhan -0.7 persen (Month-over-Month) pada bulan Desember 2020, jauh lebih buruk dibanding ekspektasi yang hanya -0.2 persen. Data bulan November pun direvisi turun dari -1.1 persen menjadi -1.1 persen. Hal ini mengisyaratkan parahnya kemunduran ekonomi akibat penyebaran kasus COVID019 yang menggila menjelang pergantian tahun dengan angka kematian lebih dari 4 ribu per hari.

Data tersebut mengikis minat risiko pasar, sehingga dolar AS sebagai aset safe haven kembali mengalami penguatan. Laporan keuangan perbankan AS semakin memperburuk situasi. JPMorgan, Citigroup dan Wells Fargo menyampaikan kinerja lebih baik, tetapi hal itu semata-mata karena provisi kredit yang disediakan dalam rangka menanggulangi dampak pandemi. CEO JPMorgan, Jamie Dimon, mengingatkan bahwa data tersebut tidak menggambarkan tren yang mendasarinya.

Baca Juga:   Outlook Mingguan Minyak Mentah Berjangka : 17 - 21 Oktober 2016

Negara-negara Eropa memutuskan untuk memperpanjang dan atau memperketat kebijakan lockdown yang telah diterapkan. Prancis, misalnya, memajukan jam malam dan meningkatkan kontrol perbatasan. Progres vaksinasi di Jerman juga terhambat karena pos-pos yang ditunjuk malah sepi karena masyarakat masih melaksanakan pembatasan sosial.

Angka kematian tercatat akibat COVID-19 sedunia pagi ini telah resmi melampaui 2 juta jiwa. Kabar tersebut menjadi pengingat bahwa situasi masih jauh dari membaik, sehingga menyurutkan minat pasar pada aset-aset high risk.

Di sisi lain, Ketua The Fed Jerome Powell pada Kamis malam mengisyaratkan bahwa pihaknya belum akan melakukan tapering maupun menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Ia menilai kondisi ekonomi AS saat ini masih jauh dari harapan bank sentral dan akan mempertahankan kebijakan moneter longgar hingga situasi ketenagakerjaan benar-benar membaik.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply