Pengangguran Australia Melonjak, Dolar Aussie Makin Bearish

Pasangan mata uang AUD/USD membukukan penurunan hari ketiga beruntun hingga menyentuh rekor terendah satu bulan pada level 0.7287 dalam perdagangan hari ini (11/11/2021). Rilis data ketenagakerjaan Australia tadi pagi telah menekan dolar Aussie. Namun, pelemahan sebenarnya berlatar belakang pada outlook kebijakan bank sentral Australia (RBA) yang semakin bearish.

Pengangguran Australia Melonjak Dolar Aussie Makin Bearish

Australian Bureau of Statistics (ABS) melaporkan bahwa tingkat pengangguran Australia meningkat dari 4.6 persen menjadi 5.2 persen pada bulan Oktober 2021. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar yang sebesar 4.8 persen.

Jumlah orang bekerja juga malah berkurang 46.3k dalam periode ini, dan bukannya meningkat 50.0k sebagaimana diharapkan oleh konsensus pasar. Dengan data ketenagakerjaan seperti ini, RBA kemungkinan bakal semakin enggan untuk menaikkan suku bunga.

Pelaku pasar saat ini berharap RBA bersama sejumlah bank sentral mayor lain akan menaikkan suku bunga pada tahun 2022. Namun, ekspektasi itu mulai terguncang setelah RBA pekan lalu menyatakan bahwa kenaikan suku bunga paling cepat mungkin baru akan terjadi pada tahun 2023. Pernyataan RBA sudah lebih hawkish daripada prakiraan kenaikan suku bunga RBA sebelumnya pada 2024, tetapi tak cukup memuaskan pasar. Akibatnya, momentum pelemahan dolar Australia kian menajam.

Baca Juga:   Dolar Aussie Yang Lebih Lemah Dalam Sesi Asia Pada Hari Selasa Data Regional

Bank investasi terkemuka Goldman Sachs baru-baru mengungkapkan bahwa posisi jual dolar Australia merupakan salah satu “Ide Trading Top untuk 2022”. Sejumlah faktor yang memengaruhinya dalah penurunan permintaan bijih besi dari China serta outlook kebijakan RBA. Salah satu posisi yang direkomendasikan adalah jual AUD/CAD, karena mereka lebih optimistis terhadap harga minyak mendatang.

“AUD lebih terekspos pada harga metal dan, terkait dengan itu, risiko perlambatan pertumbuhan China -yang kami perkirakan akan tetap menjadi tema utama lintas pasar saat kita memasuki 2022,” kata Zach Pandl, seorang pakar strategi di Goldman Sachs.

“Ekspektasi kebijakan moneter relatif kami mendukung penguatan CAD lebih lanjut. Para ekonom kami memperkirakan RBA akan lebih lamban dalam menaikkan suku bunga dibandingkan dengan BoC (dan bank-bank sentral G10 lainnya). RBA mungkin mempertahankan (suku bunga tetap) sampai 2023 dan BoC kemungkinan mulai menaikkan suku bunga pada Januari 2022.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply