analisaforex

Notulen FOMC Tegaskan Bias Dovish, Dolar AS Anjlok

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) merosot sekitar 0.4 persen ke kisaran 92.00 dalam perdagangan hari Kamis ini (8/4/2021), setelah rilis notulen rapat FOMC yang menunjukkan sikap dovish tegas dari para pejabat bank sentral AS. Publikasi data klaim pengangguran pekanan malam pada awal sesi New York juga gagal mendongkrak USD, karena minimnya prospek kenaikan suku bunga AS.

Notulen FOMC Tegaskan Bias Dovish Dolar AS Anjlok

Dalam notulen FOMC, para pejabat The Fed mengakui pesatnya kemajuan ekonomi AS. Namun, mereka masih berpendapat bahwa kebijakan moneter longgar dalam laju saat ini masih dibutuhkan untuk mendorong pemulihan ekonomi “selama beberapa waktu”. Tak ada kabar baru yang terungkap di dalamnya, kecuali bahwa bank sentral AS masih teguh memegang pandangan dovish-nya dan takkan mengubah suku bunga secepat ekspektasi pasar.

“GDP AS berekspansi pada kuartal pertama 2021 dengan laju yang lebih cepat daripada pada kuartal keempat tahun lalu, walaupun tingkat GDP riil kemungkinan belum kembali ke tingkat yang sama dengan sebelum pandemi,” ungkap notulen tersebut.

“Partisipan mencatat bahwa kemungkinan akan dibutuhkan beberapa waktu hingga tercapai progres lebih lanjut secara substansial menuju target stabilitas harga dan ketenagakerjaan maksimum (yang ditentukan oleh Komite) dan bahwa, konsisten dengan panduan berbasis hasil yang dibuat Komite, pembelian aset akan berlanjut setidaknya dengan laju saat ini sampai dengan (tercapainya target-target tadi).”

Baca Juga:   Dolar Menguat Ditengah Kekhawatiran Tentang Perkembangan Di Negara Berkembang

Sikap yang sangat dovish ini mengisyaratkan keengganan The Fed menaikkan suku bunga maupun mengurangi skala pembelian aset (stimulus moneter), sehingga membuat pelaku pasar kecewa. Yield obligasi US Treasury langsung menurun lagi ke kisaran 1.635%, sementara greenback bertekuk lutut terhadap semua mata uang mayor. Namun, ada peluang bagi USD untuk menguat kembali terhadap mata uang tertentu.

“Greenback telah menunjukkan tanda-tanda pelemahan pekan ini, khususnya terhadap mata uang ber-yield rendah, tetapi tampaknya terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa ini adalah permulaan tren turun USD secara luas,” ungkap analis dari ING dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters.

“Kelanjutan momentum bagus euro sepertinya dibutuhkan untuk mengandalkan pada perbaikan situasi vaksin/virus Uni Eropa, yang mungkin masih membutuhkan beberapa waktu untuk terwujud.”

Sebagaimana diketahui, Uni Eropa saat ini tengah berupaya menanggulangi gelombang ketiga pandemi COVID-19 sembari menggalakkan program vaksinasi. Tapi kawasan ini sampai sekarang masih ketinggalan dibandingkan Inggris dan Amerika Serikat dalam penanganan pandemi. Sejumlah negara justru memperketat lockdown lagi, sehingga memperburuk outlook kawasan.

Baca Juga:   Gubernur RBNZ Bahas Dampak Suku Bunga Rendah Terhadap LTV New Zealand

 

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply