analisaforex

NFP AS Maret 2019 Naik, Tapi Pertumbuhan Gaji Mengecewakan

Afiliasi IB XM Broker

Rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk periode Maret 2019 pada sesi New York hari Jumat ini (5/4), menunjukkan kinerja beragam. Meskipun data aktual Non-farm Payroll (NFP) dirilis lebih baik daripada ekspektasi, tetapi pertumbuhan gaji per-jam ternyata lebih rendah dibandingkan harapan pasar.

Saat berita dirilis, indeks Dolar AS (DXY) tertahan pada level 97.30 dan USJ/JPY cenderung sideways pada kisaran 111.680. Greenback juga hanya menguat terbatas saja terhadap Pounds dan Euro. Pasangan EUR/USD naik 0.1 persen ke level 1.1230, sedangkan GBP/USD merosot 0.23 persen ke level 1.3044 dengan tambahan katalis dari perkembangan terbaru mengenai brexit.

NFP AS Naik

US Bureau of Labor Statistics mengumumkan bahwa data NFP bulan Februari lalu direvisi naik dari 20k menjadi 33k; sedangkan NFP bulan Maret meroket hingga 196k, jauh melampaui ekspektasi awal yang dipatok pada 175k. Sesuai ekspektasi, tingkat pengangguran tetap pada rekor terendah 3.8 persen. Namun, laju pertumbuhan rerata gaji per jam hanya naik 0.1 persen (Month-over-Month), sehingga pertumbuhan tahunannya tergelincir dari 3.4 persen menjadi 3.2 persen (Year-on-Year).

Baca Juga:   GBP / USD Tergelincir Lebih Rendah Setelah Data Pinjaman Sektor Publik Inggris

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat tersebut mensinyalkan bahwa meskipun situasi tak seburuk bulan lalu, tetapi sektor ketenagakerjaan juga tak berkinerja sebaik ekspektasi pasar. Apalagi, lesunya kenaikan gaji karyawan ini berlawanan dengan harapan pemerintah AS saat meluncurkan pemangkasan pajak korporasi pada tahun lalu.

Terlepas dari itu, sejumlah analis tetap optimis. Josh Nye dari Royal Bank of Canada mengatakan, “Kenaikan ketenagakerjaan terjadi satu kuartal lagi, mendukung pandangan kami bahwa perlambatan pada pertumbuhan GDP (Amerika Serikat) kuartal I lalu hanya sementara saja (sebagaimana kita saksikan pada tahun-tahun lainnya saat perekonomian AS mengawali tahun dengan lambat).”

James Knightley dari perbankan terkemuka ING juga sependapat. Katanya, “Terlepas dari satu periode pasar keuangan suram, kami tetap relatif optimis mengenai prospek ekonomi AS. Kekuatan pasar tenaga kerja akan terus mendukung belanja dan sentimen konsumen (yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi AS).”

Di sisi dunia berbeda, sebuah kabar baru mengenai brexit memicu kekecewaan pasar. PM Theresa May diberitakan hanya mengajukan penundaan brexit dari 12 April hingga 30 Juni saja, sedangkan Uni Eropa berharap Inggris menundanya jauh lebih lama lagi. Potensi konflik antara kedua pihak ini kembali menenggelamkan Pounds versus berbagai mata uang lainnya, termasuk Dolar AS.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply