Lockdown Beijing Membatasi Ruang Reli Dolar Aussie

Dolar Australia menunjukkan kinerja yang cukup tangguh terhadap dolar AS dalam perdagangan hari Kamis (24/11/2022). AUD/USD membukukan penguatan sekitar 0.5 persen sampai level tertinggi sepekan pada kisaran 0.6778. Kendati demikian, reli tersebut masih belum mampu menerobos resistance pada ambang 0.6800-an. Aussie pun tetap cenderung terdepresiasi terhadap beragam mata uang mayor lain seperti dolar New Zealand dan pound sterling.

Lockdown Beijing Membatasi Ruang Reli Dolar Aussie

Sentimen pasar sempat membaik antara Oktober hingga awal November, sehubungan dengan rumor bahwa China akan mempertimbangkan ulang pendekatan kebijakan Zero COVID-nya. Langkah seperti itu dapat meningkatkan permintaan dari China, hal mana dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi China sendiri serta seluruh kawasan Asia dan Australia. Akan tetapi, situasi memburuk dengan cepat.

Kantor-kantor berita dunia kini mengabarkan bahwa Beijing kemungkinan akan memberlakukan lockdown ketat dalam waktu dekat. Perkembangan ini sebenarnya selaras dengan ekspektasi pasar, mengingat wacana pengatatan pembatasan aktivitas masyarakat telah menyebar sejak mencuatnya fatalitas kasus COVID-19 pada akhir pekan lalu.

Beijing melaporkan lebih dari 1600 kasus COVID-19 baru per hari Rabu kemarin, menandai lonjakan yang sangat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Bloomberg melaporkan pula terjadinya “panic buying” seiring penduduk Beijing bersiap-siap menghadapi lockdown lagi.

Baca Juga:   NZD / USD Stabil, Dekat Posisi Terendah 6 Bulan

“Kasus COVID China berada dalam rekor tertinggi sejak 22 April, tetapi reaksi kebijakan baru belum diketahui. Meskipun demikian, logika penyebaran virus yang eksponensial kemungkinan akan memerlukan lockdown lebih lanjut,” kata Callum Bruce, seorang ekonom di Goldman Sachs.

Situasi ini membebani pergerakan dolar Australia. China masih menjadi destinasi ekspor utama Australia, padahal lockdown hampir pasti akan menekan permintaan China secara domestik maupun internasional.

“Kami masih berpendapat AUD rapuh terhadap memudarnya sentimen positif di China, karena risiko penyebaran lockdown terus meningkat dan, bahkan meskipun pembatasan lebih ringan, konsumen bereaksi sangat lambat terhadap pelonggaran pembatasan,” papar Elsa Lignos, Kepala Strategi FX Global di RBC Europe Limited.

“AUD kemungkinan terus diperdagangan atas faktor-faktor global seperti itu,” ujar Ashish Agrawal, seorang analis di Barclays Bank Singapura, “Arus berita dari China juga dapat memengaruhi AUD, khsuusnya jika ada sinyal baru tentang pengetatan (pembatasan) dalam mobilitas seiring menyebarnya kasus (COVID-19).”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.