Kurs Dolar Makin Rontok Pasca Rilis Data IHP AS

Indeks dolar AS (DXY) melanjutkan kemerosotan ke kisaran 94.60-an pada awal sesi New York hari Kamis (13/1/2022). Publikasi data inflasi produsen dan klaim pengangguran mingguan AS sama-sama meleset dari ekspektasi, sehingga memotivasi pemain pasar untuk memangkas posisi trading bullish mereka pada greenback.

Dolar Makin Rontok Pasca Rilis Data IHP AS

Trader dan investor sudah mulai mawas terhadap dolar AS ketika Ketua The Fed Jerome Powell menghindari pernyataan hawkish dalam testimoninya di awal pekan. Sebagian kewaspadaan berubah menjadi aksi jual setelah rilis data inflasi konsumen AS kemarin tak menunjukkan pertumbuhan harga-harga yang melebihi ekspektasi pasar. Data-data hari ini semakin mengonfirmasi perubahan tren dolar AS.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa jumlah klaim pengangguran awal bertambah 230k sepanjang pekan lalu. Angka tersebut lebih banyak dibandingkan prakiraan pasar yang sebesar 200k maupun pertambahan 207k pada periode sebelumnya.

Laporan lain tentang indeks harga produsen (IHP) Amerika Serikat juga hanya menunjukkan pertumbuhan sebesar 0.2 persen (Month-to-Month) pada bulan Desember 2021. Indikator inflasi produsen itu lebih lemah dibandingkan pertumbuhan 1.0 persen pada November maupun prakiraan 0.4 persen yang dipatok konsensus. Laju inflasi produsen tahunan pun terseret turun dari 9.8 persen menjadi 9.7 persen.

Baca Juga:   Aussie Rebound Sebagaimana Dukungan Harga Konsumen China Jinak

Semua ini mengisyaratkan bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS mungkin tak sebaik ekspektasi, sedangkan lonjakan inflasi boleh jadi sudah melewati “puncak”-nya. Konsekuensinya, proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve AS tahun ini kemungkinan terbatas sebanyak 3 kali lagi saja. Sejumlah analis juga menilai “rate hike” sebanyak itu sudah terlalu agresif, sehingga The Fed akan kesulitan untuk menaikkan suku bunga lagi pada tahun 2023.

“Skala dari aksi jual dolar semestinya sebagian menunjukkan posisi (para investor di pasar -red),” kata Derek Halpenny, seorang analis dari MUFG, “Para investor tampaknya mensinyalkan bahwa berakhirnya QE (Quantitative Easing), menaikkan suku bunga sebanyak empat kali, dan memulai QT (Quantitative Tightening) dalam rentang waktu 9 bulan itu sangat agresif, sehingga akan membatasi ruang untuk kenaikan suku bunga berikutnya. Faktanya, ini memperkuat keyakinan bahwa puncak suku bunga The Fed akan berada di bawah 2 persen.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply