Kiwi Bertaji, Dolar Melemah Jelang Rilis Notulen FOMC

NZD/USD menjadi salah satu pasangan mata uang mayor berkinerja terbaik hari ini (23/11/2022) dengan membukukan kenaikan lebih dari 0.5 persen dan menguji ambang 0.6200-an. Pengumuman kenaikan suku bunga New Zealand tadi pagi menyokong kurs dolar Kiwi, di samping juga suasana wait-and-see menjelang rilis notulen FOMC yang menekan dolar AS.

Kiwi Bertaji Dolar Melemah jelang Rilis Notulen FOMC

Bank sentral New Zealand (RBNZ) mengumumkan kenaikan suku bunga sebanyak 75 basis poin dari 3.50 persen menjadi 4.25 persen. Dengan demikian, New Zealand kini memiliki suku bunga paling tinggi diantara negara-negara G10. Padahal, RBNZ bulan lalu sempat mengisyaratkan akan memperlambat laju pengetatan moneter.

RBNZ menambahkan bahwa pula bahwa mereka merasa perlu menaikkan suku bunga lebih cepat. Keputusan tersebut cukup memadai untuk mendukung nilai tukar NZD/USD bertahan dalam rentang tertinggi tiga bulan, kendati RBNZ juga mengingatkan bahwa New Zealand kemungkinan akan mengalami resesi selama setahun ke depan.

“Pembaruan perkiraan (suku bunga) OCR RBNZ mencapai puncak pada 5.5 persen per akhir 2023, suatu peningkatan yang sangat besar dibandingkan prakiraan dari MPS Agustus yang (hanya) memuncak pada 4.1 persen,” kata Sharon Zollner, kepala ekonom ANZ, “Kami pikir keputusan ini pada akhirnya akan mendukung NZD atas dasar bahwa arah prakiraan RBNZ tentang (suku bunga) OCR menetap di atas tingkat puncak suku bunga The Fed yang diperkirakan oleh pasar (pasar kini memperkirakan suku bunga The Fed memuncak pada 5.08 persen). Pengendalian inflasi juga akan positif bagi NZD.”

Baca Juga:   Aussie Ambruk Gegara China Mempersulit Ekspor Australia

Kontras dengan RBNZ yang telah menegaskan sikap hawkish-nya, para pejabat The Fed justru melontarkan retorika yang berbeda-beda terkait prospek kenaikan suku bunga lanjutan. Sebagian pejabat The Fed mendukung kenaikan suku bunga secara agresif yang berkelanjutan, sedangkan sebagian lainnya menyarankan agar skala kenaikan suku bunga berikutnya dikurangi. Pada gilirannya, perbedaan opini ini membebani greenback.

“Para trader FX saat ini kemungkinan akan terpecah antara komentar hawkish terus menerus dari para anggota The Fed dan prospek kebijakan The Fed pada 2023,” papar analis dari Commerzbank dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.