Kasus COVID-19 Marak Lagi, Reli GBP/USD Macet Pada Kisaran 1.38

Pasangan mata uang GBP/USD gagal menembus ambang 1.3830-an selama tiga hari beruntun. Sterling masih tertopang oleh ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Inggris (BoE) dalam waktu dekat, tetapi momentum bullish sudah mulai memudar. Analis dari HSBC juga mengingatkan agar trader sterling berhati-hati terhadap sejumlah perkembangan baru di Inggris.

Reli GBPUSD Macet Pada Kisaran 138

Momentum reli GBP/USD mulai menyusut seusai rilis data inflasi Inggris kemarin. UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa inflasi konsumen Inggris hanya bertumbuh 0.3 persen (Month-over-Month) pada bulan September, atau lebih lemah dibandingkan kenaikan 0.4 persen yang diharapkan konsensus maupun lonjakan 0.7 persen pada periode sebelumnya. Pertumbuhan inflasi tahunan juga terkoreksi dari 3.2 persen menjadi 3.1 persen.

Data-data tersebut menunjukkan pelemahan, tetapi sebenarnya tak mengubah ekspektasi kenaikan suku bunga BoE. Pelaku pasar masih meyakini prospek kenaikan suku bunga BoE pertama pasca-pandemi sebesar 25 basis poin pada bulan November mendatang. Di saat yang sama, sejumlah analis yang mengutarakan kekhawatirannya pada prospek reli GBP.

Baca Juga:   Outlook Mingguan EUR / USD : 25-29 November

“GBP/USD terbukti tangguh menghadapi berita COVID-19 yang semakin menantang, karena pasar suku bunga yang hawkish telah mengimbanginya. (Namun) kami mengira ketangguhan ini akan gagal,” ujar Daragh Maher, Kepala Strategi FX di HSBC.

Maher menilai sentimen terhadap sterling dapat merosot di tengah meningkatnya jumlah kasus COVID dan kemungkinan akan diberlakukannya pembatasan baru demi mengendalikan penyebaran virus. Katanya, “Pertumbuhan ekonomi Inggris melambat, sebagian karena keterbatasan pasokan, tetapi sekarang berisiko memburuk karena prospek kebijakan baru untuk mengatasi jumlah kasus dan kematian COVID-19 yang terakselerasi ke rekor tertinggi baru sejak Maret.”

Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid kemarin mengakui terjadinya peningkatan kasus COVID-19 dan menghimbau agar semua warga negara segera menerima vaksinasi. Tapi pemerintah Inggris juga siap untuk melaksanakan rencana B jika jumlah kasus baru mulai membuat layanan kesehatan kewalahan. Rencana B berarti diberlakukannya kembali kewajiban mengenakan masker di tempat publik dan penerapan paspor vaksinasi sebagai syarat kehadiran dalam aktivitas sosial.

“Akan tampak aneh bagi BoE untuk menaikkan (suku bunga) di tengah ketidakpastian ini,” kata Maher, “Inggris tidak sendirian dalam kebangkitan hawkish-nya baru-baru ini, tetapi tak banyak negara di G10 yang dalam waktu bersamaan menghadapi berita tentang perlunya pendekatan ‘rencana B’ guna melindungi layanan kesehatan.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply