Inflasi Meroket, Euro Malah Terjun Bebas

Inflasi Zona Euro mencetak rekor tertinggi baru pada bulan Oktober lalu. Kendati demikian, kurs euro tetap babak belur. Saat berita ditulis pada awal sesi New York (31/10/2022), EUR/USD amblas nyaris 0.9 persen sampai kisaran 0.9875. EUR/GBP juga terkekang dekat rentang terendah dua bulan pada kisaran 0.8580-an, sementara EUR/JPY lagi-lagi gagal menembus resistance pada ambang 148.00.

Inflasi Meroket Euro Malah Terjun Bebas

Eurostat melaporkan bahwa laju inflasi Zona Euro mencapai rekor tertinggi pada 10.7 persen, melampaui estimasi pasar yang hanya sebesar 10.2 persen (Year-on-Year). Laju inflasi inti juga terakselerasi dari 4.8 persen pada periode sebelumnya menjadi 5.0 persen pada periode Oktober, padahal konsensus sebelumnya memperkirakan laju tahunan akan stagnan.

Situasi inflasi seperti ini mengharuskan bank sentral Eropa (ECB) untuk menaikkan suku bunga secara agresif. Akan tetapi, para ekonom menilai ECB tak akan mampu melakukannya lantaran terkekang oleh pertumbuhan ekonomi kawasan yang melambat secara signifikan.

Data Eurostat menunjukkan pertumbuhan Zona Euro yang melambat sampai 0.2 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal ketiga tahun ini. Performa tersebut sangat mengecewakan dibandingkan pertumbuhan 0.8 persen pada kuartal sebelumnya, sekaligus gagal memenuhi harapan konsensus untuk kenaikan 1 persen.

Baca Juga:   BERITA SAHAM HARI RABU 25/05/2022 - WIJAYA WISESA REALTY BELI 6 JUTA SAHAM HRME

Para analis kian khawatir kalau Zona Euro akan masuk ke dalam masa resesi pada periode berikutnya. Padahal, kenaikan suku bunga ECB dalam jumlah berapapun akan memperburuk situasi.

“Kontraksi Zona Euro belum dimulai, dengan pertumbuhan GDP untuk kuartal ketiga mencapai 0.2 persen. Tapi inflasi terus meningkat, sehingga perekonomian Zona Euro kemungkinan mengalami musim dingin yang sulit dengan bayang-bayang resesi,” kata Bert Colijn, ekonom senior untuk Zona Euro di ING.

“Dengan kondisi ekonomi melemah dan resesi mungkin terjadi pada musim dingin, kami pikir ECB akan menaikkan suku bunga berikutnya dengan skala lebih kecil pada 50 basis poin. Mengingat total kenaikan suku bunga ECB secara historis, itu (saja) akan berdampak memperlambat perekonomian tahun depan.”

“Gambarannya tetap suram,” tambah Colijn, “Keyakinan konsumen berada dekat rekor terendah historis, karena pertumbuhan gaji riil saat ini berada pada rekor terendah multidekade. Itu sangat membebani prospek konsumsi, padahal penjualan ritel sudah menurun selama kuartal terakhir.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.