Inflasi AS Mengecewakan, Dolar AS Tergencet Aksi Jual

Kurs Dolar AS merosot drastis seusai pengumuman data inflasi Amerika Serikat malam ini (10/8/2022). Indeks dolar AS ambruk hingga menembus ambang 105.00. Sebaliknya, rival-rival utama greenback justru naik daun.

Dolar AS Tergencet Aksi Jual

Harga bahan bakar jatuh sekitar 20 persen pada bulan Juli 2022. Konsekuensinya, data inflasi utama AS membukukan pertumbuhan nol persen secara Month-over-Month dan menurunkan laju inflasi tahunan.

Inflasi tahunan menurun sampai 8.5 persen (Year-on-Year) versus estimasi konsensus 8.9 persen. Data ini menjadi krusial, karena berpotensi menjadi tanda-tanda telah berakhirnya puncak tertinggi inflasi di negeri Paman Sam.

Apabila AS benar-benar telah melampaui masa-masa terburuk dari “era inflasi tinggi”, Federal Reserve kemungkinan akan mengecilkan skala kenaikan suku bunga berikutnya. Kebenaran dari asumsi ini masih perlu dibuktikan oleh data-data ekonomi AS pada periode mendatang, tetapi sudah cukup mengagetkan bagi pelaku pasar.

“Laporan CPI AS yang mengubah permainan!” kata Viraj Patel, Pakar Strategi Makro di Vanda Research, “Ini hanya satu laporan, tetapi ini melawan tren kenaikan harga yang terus-menerus … (sedangkan data) inflasi inti dirilis lebih lambat.”

Baca Juga:   Kanada Naikkan Suku Bunga Pertama Kali Pasca-Pandemi

“Inflasi AS yang lebih rendah telah mengalihkan probabilitas untuk kembali mendukung kenaikan suku bunga Fed sebesar 50 bps pada September daripada 75 bps, tetapi ada banyak data yang akan datang antara sekarang hingga saat itu tiba,” kata James Knightley, Kepala Ekonom Internasional di ING Bank.

Satu laporan inflasi yang lebih lambat saja tak memadai untuk mendesak The Fed menguba haluan kebijakan hawkish-nya. Pasar berikutnya akan memantau opini para pejabat The Fed dan data-data ekonomi AS lain, khususnya laporan inflasi dan ketenagakerjaan AS yang dirilis bulan depan.

“Reaksi awal menunjukkan dolar AS menderita aksi jual hebat (hingga) turun satu persen versus EUR dan GBP,” kata Mike Owens dari Saxo Markets, “(Tapi) pergerakan-pergerakan ini mungkin berumur pendek jika pasar kembali menyoroti The Fed, (karena) satu bulan data tidak akan mengubah sikap hawkish mereka saat ini…”

Hussain Mehdi dari HSBC Asset Management bahkan berpendapat, “Secara keseluruhan, The Fed siap untuk tetap sangat hawkish, dan akan terpaksa menaikkan suku bunga sampai teritori yang restriktif, suatu proses yang mungkin berlanjut sampai tahun baru. Hal ini, bersama dengan laba yang tertekan, menurunnya rekrutmen dan PHK, serta keyakinan yang lemah, kemungkinan memicu resesi.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.