analisaforex

GDP Zona Euro Meleset, EUR/USD Gagal Tembus Level 1.1900

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang EUR/USD sempat menyentuh level tertinggi dua tahun pada 1.1908 dalam perdagangan hari ini (31/7). Namun, pergerakannya berbalik turun setelah rilis data GDP Zona Euro menunjukkan pertumbuhan ekonomi lebih buruk daripada ekspektasi awal. Saat berita ditulis pada awal sesi New York, Euro diperdagangkan pada level 1.1813 versus Greenback. Namun, prospek pemulihan ekonomi Zona Euro sebenarnya masih cukup solid.

GDP Zona Euro Meleset

Eurostat melaporkan pertumbuhan ekonomi Zona Euro menurun 12.1 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal kedua tahun 2020, padahal pelaku pasar hanya mengantisipasi kemunduran 11.2 persen. Dalam basis tahunan, data GDP merosot 15.0 persen (Year-on-Year) atau lebih buruk dari ekspektasi penurunan 13.9 persen yang diantisipasi oleh para ekonom.

Untungnya, catatan merah dalam GDP Zona Euro tersebut masih lebih baik ketimbang data GDP Amerika Serikat dalam periode yang sama. Data preliminer terkait perekonomian Zona Euro untuk bulan Juli ini menunjukkan kinerja yang lebih baik.

“Baik data frekuensi tinggi maupun data survei bulanan tradisional menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi meningkat lebih lanjut selama bulan pertama dalam kuartal ketiga. Kemarin, survei sentimen ekonomi Komisi Eropa untuk bulan Juli menunjukkan bahwa ekspektasi produksi diantara perusahaan-perusahaan manufaktur berubah menjadi positif. Baik pesanan ekspor maupun total mengalami rebound untuk pertama kalinya sejak Februari. Ini gelagat bagus,” kata Florian Hense, seorang ekonom dari Berenberg Bank.

Baca Juga:   Harga Emas Naik, Kesepakatan Dagang Mungkin Akan Datang Setelah Pemilu 2020

Lanjutnya, “Dibantu oleh efek dasar, kuartal ketiga semestinya menampilkan rebound kuat dalam GDP secara relatif dibandingkan nuansa kuartal kedua yang ditekan oleh kinerja buruk bulan April. Jika beruntung, perekonomian kuartal ketiga bisa memulihkan nyaris setengah dari penurunan yang dialaminya pada kuartal kedua.

Dalam laporan berbeda, data CPI Zona Euro juga mengalami kenaikan sebesar 0.4 persen (Year-on-Year) pada bulan Juli. Kenaikan ini lebih tinggi dibanding estimasi yang hanya 0.2 persen maupun data periode sebelumnya yang sebesar 0.3 persen.

Kenaikan inflasi biasanya berpotensi mendongkrak nilai tukar mata uang, karena bank sentral akan lebih terdorong untuk mengerem kebijakan moneter longgar pada masa-masa inflasi yang lebih tinggi. Namun, krisis global akibat pandemi COVID-19 saat ini menimbulkan anomali khusus di mana bank-bank sentral mengabaikan data inflasi agar mampu mengerahkan semua instrumennya untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Selaras dengan itu, data inflasi ini nyaris tak dihiraukan pasar sama sekali.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply