analisaforex

GDP China Mencatat Angka Negatif Terburuk Dalam Sejarah

Afiliasi IB XM Broker

Perekonomian China mencatat pertumbuhan ekonomi negatif dalam kuartal pertama tahun 2020. Fakta tersebut terungkap dalam laporan ekonomi yang dirilis tadi pagi (17/4). Ini merupakan kemerosotan GDP China kuartal I untuk pertama kalinya sejak pencatatan data dimulai pada tahun 1992.

Sebagai imbas dari lockdown yang diberlakukan di kota-kota besar China selama hampir dua bulan di awal tahun, pertumbuhan GDP tercatat -6.8 persen (Year-on-Year) untuk kuartal I/2020. Angka itu lebih buruk ketimbang estimasi -6.5 persen yang diperkirakan oleh para analis sebelumnya, dan secara efektif menghapus ekspansi ekonomi 6.0 persen selama kuartal terakhir tahun 2019.

GDP China Mencatat Angka Negatif Terburuk Dalam Sejarah

Kabar buruk ini bukan hanya mencemaskan bagi investor di China saja, melainkan seluruh dunia. Perlu diingat, China merupakan salah satu negara pemilik ekonomi terbesar di dunia bersama AS dan Zona Euro. Banyak sekali negara lain yang menjadikannya sebagai destinasi ekspor maupun sumber impor pasokan bahan baku yang vital dalam rantai suplai internasional.

Penurunan permintaan agregat China juga bakal mengancam kondisi ekonomi di berbagai negara lain. Negara-negara berbasis komoditas seperti Australia dan New Zealand, kemudian negara-negara mitra dagang utama China di benua Asia hingga Eropa akan terimbas.

Baca Juga:   Pengadilan Atas Brasil Menunda Impeachment Rousseff

“Kontraksi GDP dalam Januari-Maret akan diterjemahkan menjadi hilangnya pendapatan secara permanen, direfleksikan pada kebangkrutan perusahaan-perusahaan kecil dan hilangnya pekerjaan,” kata Yue Su dari The Economist Intelligence Unit.

China telah menikmati ekspansi pertumbuhan ekonomi masif hingga rata-rata 9 persen per tahun selama dua dekade terakhir. Akan tetapi, aktivitas ekonominya macet total menyusul penyebaran pandemi COVID-19 sejak akhir bulan Desember 2019. Pembatasan sosial berskala besar dan isolasi total di sejumlah kota industri terbesar telah mengakibatkan dampak ekonomi luar biasa.

Beberapa data suram lain juga dirilis bersama laporan ini. Output pabrikan tercatat -1.1 persen untuk bulan Maret, meskipun industri manufaktur China sudah mulai beroperasi kembali. Penjualan ritel ambruk 15.8 persen dalam periode yang sama meski lockdown sudah dilonggarkan, karena banyak orang masih memilih tetap tinggal di rumah. Hanya tingkat pengangguran yang menurun dari 6.2 persen menjadi 5.9 persen.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply