GBP/USD Naik Sejenak Berkat Data Upah Yang Dilematik

GBP/USD sempat terperosok sampai level terendah 1.2509 dalam perdagangan hari Selasa (14/5/2024), kemudian memantul sampai kisaran 1.2590-an. Publikasi sepaket data tenaga kerja Inggris mengisyaratkan tekanan inflasi gaji yang lebih kuat, sehingga pound kembali bertaji. Akan tetapi, ada sejumlah keraguan dalam data tersebut.

GBPUSD Naik Sejenak Berkat Data Upah yang Dilematik

UK Office for National Statistics (ONS) mengatakan bahwa pendapatan di Inggris, termasuk bonus, naik 5.7 persen pada bulan Maret 2024. Angka tersebut jauh di atas estimasi konsensus yang sebesar 5.3 persen. Kenaikan pendapatan bahkan lebih tinggi lagi dalam data yang tidak memperhitungkan bonus, yaitu 6.0 persen.

Angka-angka ini menandakan tekanan inflasi gaji terus meningkat, mengisyaratkan inflasi domestik akan tetap tinggi dan berpotensi menunda penurunan suku bunga di Inggris. Namun, tak semua data tenaga kerja Inggris cukup menggembirakan.

ONS melaporkan tingkat pengangguran Inggris meningkat dari 6.2 persen menjadi 6.3 persen pada Maret 2024. Perekonomian Inggris juga kehilangan 177k pekerjaan selama periode tiga bulan yang berakhir pada Maret, semakin parah dibandingkan hilangnya 156k pekerjaan pada periode sebelumnya.

Baca Juga:   EUR / USD Ditolak di $1,3400, USD/JPY Terjun Terus, Menyentuh Sub-¥ 94,00

Apabila pelemahan dalam pasar tenaga kerja Inggris ini berlanjut, maka tekanan gaji kemungkinan akan segera mengendur. Dalam konteks ini, Bank of England (BoE) harus mencari referensi data tambahan dalam pengambilan kebijakannya.

Charles Hepworth, Direktur Investasi di GAM Investments, berkomentar, “(Data tenaga kerja Inggris) ini memberikan sinyal yang beragam untuk dicerna oleh Bank of England menjelang rencana penurunan suku bunga pada bulan Juni – kebijakan yang restriktif mulai memengaruhi pasar tenaga kerja bahkan jika pertumbuhan gaji, yang pada dasarnya bersifat inflasioner, tetap kuat. Fokusnya adalah pada (perilisan) data inflasi minggu depan – apabila inflasi berhasil turun, seperti yang diharapkan, menuju 2 persen, maka angka pendapatan dan pengangguran ini akan diberi bobot yang lebih kecil dalam pengambilan keputusan mereka.”

Rob Wood, Kepala Ekonom Inggris Raya di Pantheon Macroeconomics, juga mengingatkan bahwa kenaikan Gaji Hidup Layak Nasional sebesar 9.8 persen pada bulan April akan terus meningkatkan momentum inflasi gaji pada bulan-bulan mendatang. Oleh karena itu, penurunan inflasi kemungkinan tidak akan terlihat mencolok dalam waktu dekat.

Baca Juga:   Harga Emas Naik Karena Kekhawatiran Atas Pendapatan Perusahaan Membebani Ekuitas Asia

“Pertumbuhan upah dari tahun ke tahun akan terus melambat, tetapi kemungkinan hanya terjadi secara bertahap hingga bulan Juni. Kami memperkirakan penurunan yang lebih besar pada paruh kedua tahun ini ketika negosiasi gaji ditetapkan dalam konteks inflasi di bawah 2%,” kata Wood.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.