analisaforex

GBP/USD Berkonsolidasi Menjelang Pemilu Inggris 2019

Afiliasi IB XM Broker

Pound diperdagangkan volatile terhadap beragam mata uang mayor lain menjelang hari-H pemilu Inggris esok hari. Pasangan mata uang GBP/USD sempat merosot hingga 1.3107 pada sesi Asia (11/12), tetapi melonjak lagi ke kisaran 1.3186 pada sesi Eropa. Posisinya relatif stabil dan berkonsolidasi di level tinggi pada sesi New York, sementara trader dan investor memilih untuk wait-and-see hingga dipublikasikannya hasil pemilu awal.

GBPUSD Berkonsolidasi Menjelang Pemilu Inggris 2019

Lembaga riset YouGov merilis hasil jajak pendapat terakhirnya yang disortir dengan metode MRP pada dini hari tadi. Hasil jajak pendapat yang terkenal akurat tersebut menampilkan proyeksi perolehan partai Konservatif di parlemen Inggris berkurang dari 359 kursi menjadi 339 kursi, sedangkan partai Labour justru mengalami peningkatan dari 211 menjadi 213. YouGov juga menambahkan ada kemungkinan realisasi hasil pemilu Inggris yang lebih ketat hingga melahirkan parlemen menggantung lagi seperti tahun 2017 lalu.

“GBP menghadapi aksi jual dari level tertinggi pekan ini, setelah hasil jajak pendapat MRP YouGov menunjukkan keunggulan partai Konservatif makin menyempit,” ujar Robin Wilkin dari Lloyds Bank.

Baca Juga:   Harga Emas Naik Seiring Perang Perdagangan, Ketegangan Saudi Memberikan Dukungan Safe-Haven Yang Berkelanjutan

“Proyeksi masih mengestimasikan kemenangan mayoritas bagi partai Konservatif, tetapi jauh lebih kecil dibandingkan estimasi awal yang dirilis beberapa pekan lalu, dan YouGov mengatakan mereka tidak bisa mengecualikan kemungkinan parlemen menggantung dikarenakan ketidakpastian statistik,” papar Allan von Mehren dari Danske Bank. “Perkiraan dasar kami masih kemenangan Konservatif, tetapi dikarenakan proyeksi terbaru, hal itu menjadi kurang tegas dibandingkan perkiraan sebelumnya.”

Saat ini, pelaku pasar menilai kemenangan partai Konservatif yang dipimpin oleh PM Boris Johnson sebagai satu-satunya skenario bullish bagi Pound. Kemenangan Johnson akan memungkinkan pemrosesan brexit sesuai deadline pada 30 Januari 2020. Di sisi lain, kemenangan partai Labour atau perolehan suara yang nyaris imbang (parlemen menggantung) dikhawatirkan akan terus mengunci ketidakpastian brexit dalam periode lebih lama lagi.

Richard Falkenhäll, seorang pakar strategi forex senior di SEB mengatakan bahwa parlemen menggantung akan melemahkan Poundsterling. Katanya, “Skenario yang tidak pasti tanpa kepemimpinan yang jelas seperti ini akan meningkatkan risiko Inggris keluar tanpa kesepakatan dari Uni Eropa pada 31 Januari, sehingga menjadi alasan mengapa ini akan memicu pelemahan GBP secara signifikan di awal.”

Baca Juga:   Outlook Mingguan USD / JPY : 06 - 10 April 2015

Namun, lebih lanjut, ia menerangkan bahwa parlemen menggantung bisa jadi buruk bagi GBP dalam jangka pendek saja. Dalam jangka panjang, pergerakan bisa lebih positif jika partai-partai terbesar bisa membangun sebuah koalisi dan Uni Eropa mengizinkan perpanjangan deadline lagi, sehingga membuka kemungkinan dilakukannya referendum brexit kedua. Meski demikian, Falkenhäll menegaskan “sekarang ini nampaknya seperti alternatif yang terlalu jauh, dikombinasikan dengan banyak sekali syarat.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply