GBP/USD Anjlok Drastis Merespons Rencana Anggaran Inggris

Kurs GBP/USD anjlok nyaris 2 persen hingga mencetak rekor terendah pada 1.1020 dalam perdagangan sesi Eropa hari Jumat (23/9/2022). Sterling awalnya menguat sesaat setelah Menteri Keuangan Kwasi Kwarteng mengumumkan rencana anggaran barunya, tetapi kemudian langsung berbalik turun dengan sangat tajam.

GBPUSD Anjlok Drastis Merespons Rencana Anggaran Inggris

Kwasi Kwarteng tadi sore mengumumkan Rencana Pertumbuhan 2022 yang ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Beberapa program yang tercakup di dalamnya antara lain pemangkasan pajak terbesar sejak 1972, pembatasan tagihan energi, moratorium cukai miras, serta pemangkasan iuran asuransi nasional dan jaminan kesehatan. Namun, rencana seperti ini membutuhkan pendanaan besar yang kemungkinan bakal bersumber dari utang.

Rencana anggaran baru seperti ini tergolong stimulus fiskal yang berpotensi mendorong pertumbuhan. Namun, pertumbuhan yang dihasilkannya akan mencakup pula laju inflasi tinggi dalam kurun waktu lebih lama.

Para trader di pasar uang kini mulai berspekulasi tentang prospek kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin dalam rapat Bank of England pada November kelak, demi meredam peningkatan ekspektasi inflasi ke depan. Yield obligasi pemerintah Inggris pun melambung. Sayangnya, sterling tak mengalami peningkatan serupa lantaran terlalu banyak faktor lain yang memengaruhi pasar.

Baca Juga:   Aussie Memegang Stabil, Kiwi Yang Lebih Tinggi Di Akhir Perdagangan

Pelaku pasar juga menyoroti kemungkinan membengkaknya beban utang Inggris lantaran penerapan rencana tersebut. Beban yang akan timbul dari pemangkasan pajak saja akan mencapai GBP45 miliar dalam beberapa tahun, sehingga pasti akan memperbesar defisit anggaran.

“Dengan (pemerintah) Inggris mengajukan proposal untuk melejitkan defisit anggarannya, latar belakang pelemahan neraca pembayaran semestinya terus menekan (nilai tukar) mata uang. Prakiraan akhir tahun kami untuk Cable pada 1.11 sekarang berisiko menjadi terlalu tinggi, dan kami tak akan terkejut jika spekulasi untuk (GBP/USD jatuh) sampai paritas mulai mengemuka,” kata James Rossiter, kepala strategi makro global di TD Securities.

Andrew Goodwin, kepala ekonom Inggris di Oxford Economics, menyampaikan opini senada. Katanya, “Kami pikir pendekatan pemerintah tak mungkin mengakibatkan sterling kolaps atau memicu aksi jual gilts. Namun, absensi strategi fiskal dan ekonomi jangka panjang yang kredibel akan membuat aset-aset Inggris menjadi rapuh, dengan sterling menjadi komponen paling menonjol. Terlepas dari kemungkinan pengetatan moneter yang lebih agresif, kami memperkirakan sterling untuk terus melemah ke kisaran USD1.05 dalam jangka pendek.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.