Euro Kolaps Akibat Peningkatan Risiko Resesi

Euro menjadi mata uang mayor berkinerja terburuk dalam perdagangan hari Kamis (23/6/2022), karena data Purchasing Managers’ Index (PMI) terbaru menunjukkan peningkatan risiko resesi di Zona Euro. EUR/USD sempat melemah lebih dari 0.5 persen pada sesi Eropa, dan terus tertahan pada kisaran 1.0520-an saat memasuki sesi New York. EUR/JPY bahkan amblas lebih dari 1.6 persen ke kisaran 141.60-an.

Euro Kolaps Akibat Peningkatan Risiko Resesi

Serangkaian laporan PMI preliminer untuk kawasan Jerman dan Prancis menunjukkan bahwa kedua negara terbesar di kawasan Euro ini mengalami perlambatan yang lebih cepat daripada perkiraan para ekonom. Skor PMI Komposit Prancis hanya 52.8; jauh lebih rendah daripada perkiraan analis yang sebesar 56.0 maupun capaian 57.0 pada bulan lalu. Sedangkan skor PMI Komposit Jerman terpuruk pada 51.3; juga berada di bawah ekspektasi konsensus yang sebesar 53.1 dan data bulan lalu yang mencapai 53.7.

Subkomponen dalam laporan PMI mengisyaratkan permintaan domestik dan mancanegara yang lebih lemah. Selain itu, indikator-indikator terkait arus pesanan baru dan ekspektasi bisnis juga lemah. Konsekuensinya, penurunan lebih lanjut kemungkinan terjadi dalam bulan-bulan mendatang.

Baca Juga:   Dolar Australia Terguling Pasca Rilis Data CPI China

“Ini memperkuat kekhawatiran substansial kami seputar arah perekonomian ke depan. Pada hari Selasa, kami mengubah perkiraan kami, memandang resesi tak lagi menjadi risiko yang kian meningkat melainkan sebagai skenario dasar untuk Zona Euro,” kata Salomon Fiedler, ekonom dari Berenberg Bank.

“Data Prancis mengatur irama sejak awal. Dirilis hanya 15 menit sebelum data Jerman, PMI Prancis menyoroti bagaimana anak emas dari prospek pertumbuhan Zona Euro berada di bawah tekanan yang kian meningkat dari memudarnya efek pembukaan kembali (pembatasan sosial COVID-19) dan kondisi inflasi yang lebih tinggi,” kata Simon Harvey, Kepala Analisis FX di Monex Europe.

Pelaku pasar khawatir data tersebut akan membawa konsekuensi panjang, termasuk dalam pelaksanakan rencana kenaikan suku bunga bank sentral Eropa (ECB). ECB sebelumnya diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan bulan Juli dan September. Namun, kondisi ekonomi seperti ini membuat perubahan suku bunga dapat berakibat pada terjadinya resesi.

“ECB ketinggalan perahu untuk menaikkan (suku bunga) 50bps bulan ini. Jendela untuk kenaikan (suku bunga) tertutup dengan cepat, paling banter mereka punya dua (mungkin tiga) rapat sebelum Eropa mengalami resesi. Jika mereka ingin menjauh dari suku bunga negatif (saat ini), mereka harus mencapai 50bps pada bulan Juli dengan komunikasi yang sangat dovish,” kata Viraj Patel, Ahli Strategi Makro di Vanda Research.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.