analisaforex

Ekspektasi Stimulus AS Tertunda Berbulan-bulan, Dolar Diincar Pasar

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) mempertahankan reli sekitar 0.4 persen pada kisaran 93.77 dalam perdagangan awal sesi Eropa hari ini (16/10). Pasar kembali menghadapi peningkatan kecemasan terhadap dampak COVID-19, setelah sejumlah negara Eropa memberlakukan lockdown terbatas di wilayah masing-masing. Sementara itu, Amerika Serikat menghadapi dampak COVID-19 yang memburuk tanpa bantuan tambahan dari stimulus fiskal pemerintah. Semua ini mendorong pasar beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.

Dolar AS Diincar Pasar

Departemen Tenaga Kerja AS kemarin melaporkan bahwa jumlah klaim pengangguran meningkat 898k sepanjang sepekan sebelumnya. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari estimasi pasar yang hanya 825k maupun catatan 845k pada periode sebelumnya, sekaligus mencetak rekor tertinggi dua bulan.

James Knightley dari ING Bank menilai data itu tidak bagus, dengan menjelaskan lebih lanjut, “Mereka jelas sekali bergerak ke arah yang salah, menyentuh rekor tertinggi sejak 21 Agustus dan tetap berada jauh di atas apa pun yang dialami selama Krisis Keuangan Global (puncak waktu itu adalah pada 665k pada sepekan yang berakhir tanggal 27 Maret 2009). Bisa jadi hilangnya pekerjaan di maskapai baru-baru merupakan faktor kenaikan utama dalam laporan ini, tetapi arus berita umum memperkuat kekhawatiran kami tentang adanya masalah besar dalam pasar tenaga kerja.”

Baca Juga:   NZD / USD Hampir Tidak Berubah Pada 5 Tahun

Dinamika pasar tenaga kerja ini menegaskan pentingnya stimulus fiskal tambahan bagi Amerika Serikat. Sebagaimana dinyatakan oleh Bruce Rosenberg dari HotelPlanner, “Travel telah sangat terpukul. Orang-orang tidak bepergian maupun tinggal di hotel secara individual, tak ada orang bepergian untuk bisnis maupun korporat. Stimulus dibutuhkan untuk membantu kami melewati apa yang bisa jadi merupakan gelombang kedua (COVID-19) dan mempertahankan para karyawan sembari mencari cara mengatasi ini.”

Presiden AS Donald Trump kemarin sempat mengisyaratkan kesediaan untuk menandatangani stimulus dalam jumlah lebih besar, tetapi niatnya dijegal oleh Pimpinan Senat AS Mitch McConnell. Menteri Keuangan Steven Mnuchin bahkan mengungkapkan, “Pada saat ini, mewujudkan sesuatu (stimulus) sebelum pemilu dan mengeksekusinya akan sulit.”

Sengketa politik Washington memperumit upaya AS menanggulangi dampak COVID-19. Seandainya Trump memenangkan pemilu bulan November kelak, stimulus fiskal yang akan diluncurkan paling-paling berskala kecil -sesuai dengan proposal yang disetujui partai Republik-. Sedangkan rivalnya dari partai Demokrat, Joe Biden, juga takkan mampu meloloskan stimulus dalam waktu singkat.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 01/04/2019 - IHSG SESI II DITUTUP MELEMAH 16,14 POIN KE LEVEL 6452,61

Seandainya menang, Biden baru akan dilantik pada bulan Januari. Itu pun dengan mengasumsikan Trump bersedia lengser dengan damai. Setelah dilantik, Biden juga bisa jadi masih akan bergelut dengan Senat yang didominasi partai Republik dalam upayanya menggolkan stimulus besar yang diharapkan oleh masyarakat.

“Tampaknya sangat masuk akal bahwa dana bantuan COVID tidak hanya akan tertunda sekarang, melainkan bisa tertunda selama beberapa bulan dan bahkan bisa selip sampai akhir kuartal pertama 2021,” ungkap Anna Palmer, koresponden senior media politik terkemuka AS, POLITICO.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply