Dolar Makin Moncer Berkat Kebutuhan Valas Akhir Tahun

Indeks dolar AS (DXY) menguat lebih lanjut hingga mencapai kisaran 96.46 dalam perdagangan hari Senin ini (22/11/2021). Sejumlah faktor yang mendukung reli greenback antara lain ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun depan, ambruknya euro akibat peningkatan kasus COVID-19, serta peningkatan permintaan atas USD pada akhir tahun.

Dolar Makin Moncer Berkat Kebutuhan Valas Akhir Tahun

Data pasar menunjukkan bahwa selisih swap antar mata uang euro-dolar (Cross-currency Basis Swap/CCBS) bertenor 3 bulan telah mencetak rentang paling lebar sejak Desember 2020. CCBS merupakan kontrak di mana antar pihak bertukar pembayaran suku bunga dalam dua mata uang berbeda, dan sering dipergunakan oleh trader untuk menukar liabilitas ke mata uang yang lebih disukai. Selisih swap pada yen-dolar juga mencapai rentang paling lebar sejak Desember 2020, meskipun selisih swap sterling-dolar tampak lebih sempit.

Pelebaran selisih di sini mengisyaratkan bahwa para debitur non-AS siap untuk membayar premi lebih tinggi guna mengakses pendanaan dalam dolar AS. Apalagi korporat dan perusahaan manajemen aset biasanya meningkatkan pembelian dolar AS menjelang akhir tahun, karena rebalancing portofolio dan transfer dana akan membutuhkan konversi mata uang seperti pound dan euro menjadi USD.

Baca Juga:   Area Euro, IMF Mengatakan Pendanaan Yunani Tertanggung

“Biasanya kita menyaksikan peningkatan (kebutuhan) pendanaan dolar menjelang akhir tahun, terutama di antara debitur Asia yang memiliki cukup banyak liabilitas dalam denominasi dolar,” kata Valentin Marinov, kepala riset FX G10 di Credit Agricole, yang menyatakan pula bahwa fenomena serupa terjadi pada tahun 2020 dan 2019.

Terlepas dari kuatnya reli greenback saat ini, para analis mengingatkan pula adanya beberapa risiko bagi pergerakannya ke depan. Salah satu risiko terbesar bersumber dari rilis notulen rapat FOMC dan potensi pergantian kepemimpinan Federal Reserve.

Presiden AS Joe Biden dalam beberapa hari mendatang mungkin akan mengumumkan apakah bakal mempertahankan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed, atau menggantikannya dengan Lael Brainard. Brainard terkenal memiliki sikap lebih dovish daripada Powell, sehingga penunjukannya dapat memengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun depan.

Marinov mengungkapkan dalam catatan berbeda yang diterbitkan pekan lalu, “Melihat ke depan, notulen FOMC dan pemilihan Ketua The Fed oleh Presiden Biden dapat mengarah pada pekan Thanksgiving yang volatile bagi USD. Diskusi klien baru-baru ini menandakan bahwa nominasi Lael Brainard yang mengejutkan, meski bukan skenario utama kami, dapat mengusik bullish USD.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply