analisaforex

Dolar Australia Terpapar Risiko Wabah Corona dan Rapat RBA

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang AUD/USD berhasil menyetop kemerosotan beruntun yang diderita sepanjang bulan Januari lalu untuk sementara waktu. Saat berita ditulis (3/2), Aussie diperdagangkan pada kisaran 0.6700, sedikit lebih tinggi daripada rekor terendah 0.6683 yang dicetak pekan lalu. Meski demikian, hal ini tak lantas berarti Dolar Australia memiliki peluang untuk reli bullish.

Dolar Australia Terpapar Risiko Wabah Corona dan Rapat RBA

Demi menanggulangi kepanikan di pasar keuangan yang diakibatkan oleh wabah virus Corona, bank sentral China mengumumkan perilisan paket stimulus tambahan. Antara lain dengan menginjeksi dana sebesar 1.2 Triliun Yuan untuk mendongkrak likuiditas. Menyusul pengumuman tersebut, nilai aset-aset berisiko masih terus merosot, tetapi laju penurunannya melambat. Beberapa mata uang seperti Dolar Australia bahkan mendapatkan peluang untuk menarik napas.

Terlepas dari itu, masih terlalu dini untuk mengharapkan kebangkitan Aussie yang lebih signifikan. Selain karena dampak wabah virus Corona belum dapat diprediksi, jadwal rapat bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) besok pagi juga menghadirkan risiko tersendiri.

Konsensus ekonom mensinyalir RBA tak akan mengubah suku bunga dalam pengumuman seusai rapat besok pagi. Namun walau suku bunga kemungkinan dibiarkan pada level 0.75 persen, pernyataan kebijakan selengkapnya bisa jadi menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

Baca Juga:   Yen Gelar Penurunan VS Dollar pada Keuntungan Saham, Prospek Fed

“Rapat RBA pada hari Selasa diadakan tepat pada momen kritis dan gambaran pasar yang kritis. Namun, setelah tiga kali pemangkasan suku bunga membawa kebijakan ke rekor terendah saat ini pada 0.75 persen, kami memperkirakan RBA akan berhati-hati menyikapi pelonggaran lebih besar,” kata Roberto Mialich, seorang pakar strategi forex di UniCredit Bank.

Lanjutnya, “Kami berpikir RBA bisa jadi menunda (perubahan kebijakan) untuk saat ini, tetapi, karena adanya potensi dampak terhadap perekonomian Australia baik dari kebakaran hutan baru-baru ini maupun virus Corona di China, pelonggaran lebih jauh bisa jadi segera dibutuhkan.”

Antje Praefcke dari Commerzbank berpendapat senada. Katanya, “Setelah rapat terakhir pada bulan Desember, RBA mengisyaratkan kesediaannya untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih jauh, apabila outlook pertumbuhan, inflasi, dan ketenagakerjaan memburuk. (Padahal) pandemi virus Corona bisa memiliki dampak negatif bagi China, mitra dagang paling penting bagi Australia.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply