analisaforex

Dolar Aussie Reli Berkat Penandatanganan RCEP

Afiliasi IB XM Broker

Pasangan mata uang AUD/USD meroket lebih dari 0.7 persen ke kisaran 0.7320-an dalam perdagangan hari Senin ini (16/11), menyusul sejumlah kabar positif yang merebak di media massa. Beberapa kabar itu antara lain penandatanganan kesepakatan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) oleh 15 negara Asia-Pasifik, komentar optimistis Gubernur RBA Philip Lowe, serta kemajuan riset vaksin Moderna.

Dolar Aussie Reli Berkat Penandatanganan RCEP

Pada sebuah acara makan malam, Gubernur RBA Philip Lowe mengatakan bahwa perekonomian Australia sedang dalam jalur menuju pemulihan. Komentarnya mengisyaratkan kemungkinan bagi bank sentral untuk menarik stimulus moneter yang diberikannya bagi perekonomian sejak awal pandemi COVID-19.

“2020 telah menjadi satu tahun dengan perubahan dan disrupsi besar. Kita semua berbicara tentang isu-isu yang sedikit sekali diantara kita memikirkannya pada awal tahun. Australia berkinerja baik dalam situasi yang menantang ini dan saya mengharapkannya akan terus demikian. Pandemi telah (menimbulkan) kesulitan bagi banyak orang dan bisnis, tapi kita sekarang dalam jalan menuju pemulihan,” ujar Lowe.

Pernyataan Lowe mendorong penguatan dolar Australia pada awal perdagangan hari ini. Reli semakin kencang menyusul penandatanganan RCEP. Dolar New Zealand bahkan melejit lebih tinggi sebanyak 0.8 persen ke kisaran 0.6890-an versus dolar AS.

Baca Juga:   BERITA SAHAM JUMAT 14/12/2018 - HANSON INTERNATIONAL YAKIN PENJUALAN TEMBUS Rp1,5 TRILIUN DI 2018

Tadi siang, perwakilan 15 negara Asia Pasifik menandatangani Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). RCEP melibatkan sepuluh negara ASEAN, Korea Selatan, China, Jepang, Australia dan New Zealand; keseluruhannya mencakup nyaris sepertiga perekonomian global. Terciptanya blok perdagangan baru ini memberikan harapan untuk relasi Australia-China yang lebih baik, sekaligus mendorong pemulihan perdagangan dunia yang sempat terpukul oleh konflik AS-China.

“Ada alasan untuk optimis tentang outlook bagi AUD dan NZD. Sebuah area perdagangan bebas baru tercipta, dan setidaknya negara-negara yang terdampak virus sudah kembali berbisnis,” kata Kit Juckes dari Société Générale.

Meski demikian, sejumlah analis masih mengkhawatirkan kerapuhan AUD. Khususnya karena ketegangan diplomatik Australia-China belum benar-benar terselesaikan.

Sebagaimana diungkapkan oleh Wen Yan, seorang pakar strategi forex dari Barclays, “Kami terus berpikir bahwa risiko condong kepada pelemahan AUD dengan kekuatan bertahap yang sebagian besar merupakan hasil dari sentimen risiko yang lebih baik. Kami menilai risiko dari kekuatan USD, sentimen yang lebih lemah dalam ketegangan dagang Australia-China, dan selisih suku bunga juga bisa membebani AUD dalam jangka pendek.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply