Dolar Aussie Babak Belur Meski Inflasi Tinggi

Kurs Dolar Australia melemah secara luas dalam perdagangan forex hari Rabu (31/5/2023). Laporan inflasi Australia tadi pagi menunjukkan kenaikan melampaui ekspektasi, tetapi sentimen global terpukul oleh laporan ekonomi Asia yang buruk. AUD/USD tertekan pada level terendah sejak November, demikian pula tetangganya, NZD/USD.

Dolar Aussie Babak Belur Meski Inflasi Tinggi

Australian Bureau of Statistics melaporkan pertumbuhan inflasi konsumen tahunan hanya terkoreksi dari 7.0 persen menjadi 6.8 persen pada bulan April 2023. Padahal, konsensus sebelumnya berharap laju inflasi melampat sampai 6.4 persen.

Data inflasi yang tetap tinggi seperti ini mendorong lebih banyak trader berspekulasi bank sentral Australia (RBA) akan menaikkan suku bunga lebih lanjut. Namun, para analis menilai RBA tetap tidak akan melakukannya perubahan kebijakan apapun dalam rapatnya pekan depan dan baru akan menaikkan bunga lagi pada Agustus –apabila data-data lain sama-sama mengarah pada laju inflasi yang tinggi.

“Apa artinya ini bagi Bank Sentral? Kami terus memperkirakan bahwa suku bunga tidak akan berubah pekan depan. Sebaliknya, pasar suku bunga menempatkan peluang lebih besar untuk kenaikan suku bunga (pekan depan) setelah data inflasi hari ini,” kata Pat Bustamante, ekonom di St George Bank, “Hasil (data inflasi) hari ini mempersulit (kita) memahami data yang mendasari, karena banyaknya dampak kebijakan dan musiman dalam data, dan banyak harga jasa yang menggerakkan inflasi pada kuartal Maret (layanan keuangan, edukasi, layanan rumah sakit dan kesehatan) tidak diperbarui untuk (periode) April.”

Baca Juga:   Outlook Mingguan USD / CAD : 31 Maret - 4 April 2014

Sementara spekulasi suku bunga masih pekat dengan ketidakpastian, dolar Australia terbebani oleh memburuknya minat risiko global. Beberapa publikasi data ekonomi terkini dari China dan Jepang hari ini kompak meleset, sehingga memantik kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global. Secara khusus, laporan aktivitas manufaktur China menunjukkan tren kemunduran (kontraksi) yang berkelanjutan dan berisiko menekan permintaan atas komoditas dari negara-negara mitra dagangnya.

“Data di Asia tidak terlalu bagus malam ini dengan Korea Selatan dan Jepang sama-sama meleset jauh dalam produksi industri, serta data PMI China lebih rendah (daripada data sebelumnya dan ekspektasi pasar -red),” kata Brad Bechtel, kepala FX global di Jefferies.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.