Dolar AS Tumbang, Mata Uang Komoditas Balas Dendam

Indeks dolar AS (DXY) cenderung tertekan dalam perdagangan hari Kamis ini (14/10/2021). Rilis data inflasi AS dan notulen rapat FOMC kemarin mendukung dimulainya tapering The Fed pada bulan November mendatang, sehingga semestinya berdampak bullish bagi USD. Sayangnya, greenback justru melemah terhadap beragam mata uang mayor -khususnya dolar Australia, dolar New Zealand, dan dolar Kanada-.

Dolar AS Tumbang Mata Uang Komoditas Balas Dendam

Ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve telah menyokong reli dolar AS sejak awal September. Namun, reli tersebut mulai rontok pada kemarin dan kini berada dalam jalur bearish dua hari beruntun.

“Ini tampaknya seperti kasus klasik mentalitas tipe beli rumor dan jual fakta,” kata Neil Jones dari Mizuho, “The Fed mengonfirmasi ekspektasi (tapering) dari banyak investor yang mempertahankan posisi long roldar. Hanya saja (muncul) situasi likuidasi posisi long dolar -ambil untung dari posisi long dolar, karena (pengetatan kebijakan The Fed) sekarang sudah diperhitungkan dalam harga… Ekspektasi saya adalah kelemahan dolar saat ini tidak akan bertahan lama dan kita kembali ke tren bullish dalam jangka lebih panjang.”

Baca Juga:   Berita Saham SPMA JUMAT 16/03/2018

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS kemarin menunjukkan kenaikan inflasi konsumen AS yang solid pada bulan September 2021. Notulen rapat FOMC juga menunjukkan cukup banyak pejabat The Fed yang khawatir kalau-kalau inflasi tinggi bakal bercokol lebih lama. Akan tetapi, proyeksi kenaikan inflasi yang sudah ada hanya menjamin pengumuman tapering pada bulan November saja.

Masih banyak ketidakpastian tentang proyeksi kenaikan suku bunga The Fed. Notulen rapat FOMC juga mengekspos fakta bahwa sebagian pejabat The Fed masih menganggap masa inflasi tinggi hanya akan berlangsung sementara, sehingga tak ada dukungan kuat bagi spekulasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih cepat.

Dua data ekonomi penting dari AS yang dirilis malam ini mengekspresikan sinyal berbeda. Jumlah klaim pengangguran mingguan bertambah 293k, lebih sedikit daripada estimasi yang sebesar 319k maupun tambahan periode sebelumnya yang sebesar 329k. Sementara itu, laju inflasi produsen AS hanya bertumbuh 0.5 persen (Month-over-Month) pada bulan September 2021. Laju inflasi produsen tersebut lebih lamban dibandingkan pertumbuhan 0.7 persen pada bulan Agustus, maupun ekspektasi konsensus yang mengharapkan kenaikan 0.6 persen.

Baca Juga:   Outlook Mingguan USD / JPY : 22 - 26 September 2014

Pelemahan dolar AS lantas membuka peluang bagi mata uang-mata uang komoditas untuk mendaki lebih tinggi. AUD/USD menanjak sekitar 0.6 persen ke kisaran tertinggi sejak 7 September lalu, sedangkan NZD/USD meroket lebih dari 1 persen hingga menembus ambang 0.7000. USD/CAD pun amblas ke rekor terendah sejak Juli 2021.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply