Dolar AS Tersokong Data NFP, Terbebani Gejolak Perbankan

Kurs dolar AS terpantau beragam pada awal perdagangan sesi New York hari Jumat ini (5/5/2023). Perilisan data Nonfarm Payroll (NFP) yang ciamik berhasil mendorong indeks dolar AS naik sampai level tertinggi harian pada 101.77, tetapi riak-riak gejolak perbankan AS menyeretnya kembali ke 101.55.

Dolar AS Tersokong Data NFP Terbebani Gejolak Perbankan

US Bureau of Labor Statistics mengumumkan peningkatan jumlah payroll sebanyak 253k pada periode April 2023. Angka tersebut lebih tinggi daripada estimasi konsensus yang sebesar 180k, sekaligus menandakan peningkatan pesat dibandingkan kenaikan 165k saja pada periode sebelumnya.

Tingkat pengangguran AS menurun dari 3.5% menjadi 3.4%, padahal sebelumnya konsensus memperkirakan kenaikan sampai 3.6%. Penurunan pengangguran ini memberikan sinyal kondisi pasar tenaga kerja yang lebih tangguh lagi ketika disandingkan dengan stabilitas tingkat partisipasi pada 62.6%.

Tangguhnya pasar tenaga kerja AS juga nampak dalam data pertumbuhan gaji. Pendapatan rata-rata perjam tumbuh 0.5 persen (Month-over-Month) selama April, lebih tinggi daripada kenaikan 0.3 persen pada periode Mei. Konsekuensinya, pertumbuhan gaji terangkat dari 4.3 persen menjadi 4.4 persen dalam basis tahunan.

Baca Juga:   Sterling Masih Sesi Tertinggi Setelah Menit BoE

Data-data tersebut teramat menggembirakan bagi para pemilik dolar AS. Satu paket data NFP ini saja mungkin tak cukup untuk mendorong The Fed menaikkan bunga lagi, tetapi dapat mencegah The Fed memangkas bunga pada paruh kedua tahun ini.

Joe Manimbo, analis FX senior di Convera, berkomentar, “Dolar AS menguat setelah (laporan) rekrutmen yang kuat dan pengangguran yang rendah mengatasi kekhawatiran resesi dan prospek pemangkasan suku bunga pada akhir tahun ini.”

Di saat yang sama, dolar AS menghadapi ancaman lain dari sektor perbankan. Media massa melaporkan sejumlah bank regional AS mengalami kesulitan keuangan, sehingga memicu kepanikan di bursa Wall Street. Banyak pihak khawatir kalau gejolak kali ini bakal menyeret lebih banyak bank seperti kejatuhan Silicon Valley Bank bulan lalu.

Financial Times mengabarkan Western Alliance tengah mempertimbangkan sejumlah opsi strategis, termasuk menjual sebagian atau semua bisnisnya. Situasi serupa dihadapi oleh bank PacWest. Saham keduanya masing-masing tumbang sekitar 40 persen dan 50 persen dalam perdagangan hari Kamis kemarin, dan belum mampu pulih sepenuhnya pada awal sesi New York hari ini.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.