analisaforex

Dolar AS Terjepit Data Ritel dan Industri yang Berlawanan

Afiliasi IB XM Broker

Indeks Dolar AS (DXY) terkoreksi tipis di kisaran 99.07 pada pertengahan sesi New York hari ini (14/2). Posisinya masih dekat rekor tertinggi sejak Oktober 2019, tetapi pelaku pasar agaknya sangsi menyikapi rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat malam ini yang mengekspresikan sinyal mixed. Data penjualan ritel meningkat sesuai ekspektasi dan sentimen konsumen Michigan tetap tinggi, tetapi produksi industri jeblok.

Dolar AS Terjepit Data Ritel dan Industri yang Berlawanan

Data penjualan ritel AS mencatat kenaikan 0.3 persen (Month-over-Month) pada bulan Januari 2020, sesuai ekspektasi pasar. Akan tetapi, belanja rumah tangga tampak sedikit melemah, hanya disangga oleh pembelian kebutuhan perumahan. Data penjualan ritel untuk bulan Desember dan November 2019 juga direvisi turun menjadi masing-masing 0.2 persen saja.

Sebagian besar kenaikan penjualan ritel bulan Januari merupakan kontribusi dari pusat jual beli bahan bangunan seperti Home Depot dan Lowe’s, serta bar dan restoran. Sementara itu, penjualan di toko-toko pakaian mengalami kemerosotan terburuk sejak tahun 2009. Segmen lain yang mengalami penurunan adalah apotik dan toko elektronik.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 14/10/2019 - MENKOMINFO SEBUT INDONESIA AKAN TAMBAH 3 SATELIT

Terlepas dari ambivalensi dalam data penjualan ritel awal tahun, konsumen masih diharapkan bakal menjadi ujung tombak pertumbuhan ekonomi AS tahun ini. Indeks sentimen konsumen Michigan mendukung ekspektasi tersebut. Data menunjukkan kenaikan ekspektasi konsumen dari 90.5 menjadi 92.6; jauh lebih baik ketimbang estimasi yang dipatok pada 90.3. Skor tersebut juga lebih tinggi dibanding penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang melandai dari 114.4 menjadi 113.8.

Di sisi lain, sektor industri dan manufaktur agaknya akan terus membebani perekonomian. Data produksi industri AS tercatat -0.3 persen (Month-over-Month) pada bulan Januari, setelah mencetak -0.4 persen pada periode sebelumnya. Data produksi manufaktur juga tercatat -0.1 persen (Month-over-Month) dalam periode Januari, padahal sempat naik tipis 0.1 persen pada bulan Desember.

Perlambatan industri dan manufaktur berpotensi untuk terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Setelah berkurangnya ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perang dagang AS-China, para produsen kini dihampiri risiko dampak wabah virus Corona. Walaupun kasus virus Corona di AS sangat kecil, tetapi penutupan pabrik-pabrik di China bisa memengaruhi rantai distribusi perusahaan-perusahaan multinasional.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply