analisaforex

Dolar AS Tangguh Menjelang Pidato Para Anggota FOMC

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) menguat lagi sebanyak lebih dari 0.5 persen ke atas ambang 90.50-an dalam perdagangan hari ini (12/1). Kenaikan yield obligasi US Treasury masih mendongrak pamor greenback dan mengangkatnya dari rekor terendah 2.5 tahun yang dihuni pada bulan Januari. Pelaku pasar berikutnya akan menyoroti komentar para anggota FOMC Federal Reserve, dewan pengambil kebijakan tertinggi bank sentral AS, dalam sejumlah komunikasi publik terjadwal selama beberapa jam ke depan.

Dolar AS Tangguh Menjelang Pidato Para Anggota FOMC

Ekspektasi kebijakan baru di bawah rezim pemerintahan Joe Biden telah mendorong yield obligasi US Treasury. Yield obligasi US Treasury bertenor 10-tahunan mendaki ke rekor tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Di saat yang sama, pelaku pasar mulai berspekulasi tentang prospek kenaikan suku bunga The Fed pada tahun 2023. Beberapa pihak bahkan mensinyalir Federal Reserve dapat memulai tapering, atau pemangkasan program pembelian aset, lebih awal. Isu-isu ini membantu kurs dolar AS menguat versus mata uang-mata uang komoditi dan negara berkembang.

Morgan Stanley merekomendasikan outlook netral bagi dolar AS. Bank investasi ternama dunia ini telah menutup posisi bearish dolar-nya versus euro dan dolar Kanada, serta menghapus pandangan bullish-nya pada mata uang negara-negara berkembang. Alasannya karena suku bunga riil AS kemungkinan tetap tangguh.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SELASA 15/12/2020 - MENTERI ESDM RESMIKAN PLTS TERAPUNG PT TIMAH

Meski demikian, para analis dari ING mengatakan para pejabat The Fed yang berpidato hari ini kemungkinan bakal menggugurkan spekulasi apa pun tentang penarikan stimulus moneter. Katanya, “Komentar terkait kebijakan apa pun semestinya -dalam pandangan kami- mengarah pada penolakan penarikan stimulus moneter dalam waktu dekat. Dengan ekspektasi suku bunga Fed tetap pada level paling rendah, kenaikan selanjutnya pada yield AS akan tetap menjadi hasil dari kenaikan ekspektasi inflasi atau premi jangka waktu, yang membuat kami yakin pada opini bearish dolar kami.”

Sebagian besar analis masih berpendapat dolar akan kembali melemah seiring dengan diluncurkannya stimulus fiskal tambahan oleh Amerika Serikat di bawah Joe Biden. Pemulihan outlook ekonomi global tersuspensi sementara awal tahun ini gara-gara penyebaran varian virus COVID-19 baru, tetapi diekspektasikan mencuat lagi sejalan dengan meluasnya distribusi vaksin di berbagai negara. Dalam situasi di mana perekonomian global makin cemerlang, USD kemungkinan juga melanjutkan pelemahan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply