Dolar AS Rebound Seiring Surutnya Aksi Jual

Indeks dolar AS (DXY) beranjak ke kisaran 95.02 pada awal perdagangan sesi New York hari Jumat ini (14/1/2022). Greenback kemungkinan akan mencetak candle bearish pada grafik pergerakan harga pekan ini, tetapi aksi jual mereda untuk sementara waktu.

Dolar AS Rebound Seiring Surutnya Aksi Jual

Laporan Biro Sensus AS hari ini menunjukkan penjualan ritel merosot 1.9 persen (Month-over-Month) pada bulan Desember 2021. Angka tersebut jauh lebih buruk ketimbang estimasi konsensus yang sebesar -0.1 persen maupun kinerja bulan November yang meningkat 0.2 persen. Hasil survei sentimen konsumen Michigan juga rontok dari 70.6 menjadi 68.8 untuk periode Januari 2022.

Penurunan kedua data tersebut kemungkinan terjadi lantaran lonjakan inflasi yang terlalu tinggi dan wabah COVID-19 Omicron telah menyurutkan minat masyarakat untuk berbelanja, serta kelangkaan yang timbul akibat gangguan pasokan global berkepanjangan. Namun, penurunan di penghujung tahun itu tak cukup parah untuk menyurutkan estimasi pertumbuhan kuartal IV/2021 lalu.

Alih-alih data ekonomi, pelaku pasar lebih menyoroti beragam imbas yang mungkin menyeruak setelah Federal Reserve menaikkan suku bunganya kelak. Posisi bullish pada dolar AS sudah terlalu banyak, sehingga terjadi aksi ambil untung. Sejumlah investor juga memilih untuk memindahkan dana mereka ke aset-aset lain dengan harapan imbal hasil lebih besar.

Baca Juga:   Aussie Melemah Setelah Menit RBA Menunjukkan Kepedulian Pada Tingkat Ekonomi

“Para investor tampaknya berpandangan bahwa USD sudah mencapai puncaknya dan bahwa langkah-langkah pengetatan The Fed sudah diperhitungkan sepenuhnya, dan (aset) seperti euro menawarkan imbal hasil lebih potensial di masa depan,” papar pakar strategi FX dari Scotiabank, dalam sebuah catatan yang dilansir oleh Reuters, “Kami tidak setuju, tetapi harus mengakui bahwa USD telah mengalami kemunduran -setidaknya, secara psikologis- dengan menembus spread yield yang mendukungnya terhadap rival-rivalnya dan dengan menembus batas terbawah dari rentang konsolidasinya baru-baru ini.”

Ada pula kekhawatiran tentang potensi dampak pengetatan kuantitative (Quantitative Tightening) yang kemungkinan akan diumumkan oleh The Fed dalam tahun ini, hanya berselang beberapa bulan setelah siklus kenaikan suku bunga baru dimulai. QT dalam kerangka kebijakan moneter bank sentral memiliki fungsi yang sama dengan “rate hike“, yakni untuk mengendalikan lonjakan inflasi dan mengurangi jumlah uang beredar. Apabila The Fed melaksanakan QT pada paruh kedua tahun ini, maka proyeksi kenaikan suku bunga tahun 2023 kemungkinan akan terpangkas dan total “Fed rate hike” kelak takkan mencapai tingkat setinggi ekspektasi pasar.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.