Dolar AS Longsor Makin Jauh Gegara Sentimen Risk-on

Indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0.35 persen pada kisaran 110.40-an pada awal sesi New York hari Senin (7/11/2022). Greenback masih terdampak oleh peningkatan pengangguran AS yang termuat dalam laporan ketenagakerjaan hari Jumat, sementara mata uang rivalnya terangkat oleh sebuah rumor menarik dari China.

Dolar AS Longsor Makin Jauh Gegara Sentimen Risk-on

US Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan tingkat pengangguran Amerika Serikat meningkat dari 3.5 persen menjadi 3.7 persen, atau lebih tinggi daripada estimasi konsensus yang hanya 3.6 persen. Dengan tingkat pengangguran yang terakselerasi lebih cepat daripada estimasi sebelumnya, The Fed hampir pasti akan menaikkan suku bunga dengan skala lebih kecil pada Desember dan bulan-bulan berikutnya.

Situasi tersebut merugikan greenback, tetapi menguntungkan bagi mata uang lain yang selama ini tertekan oleh ekspektasi suku bunga The Fed. Konsekuensinya, dolar AS mengalami pelemahan secara luas.

GBP/USD menjadi jawara hari ini dengan menorehkan kenaikan sekitar 0.8 persen sampai kisaran 1.1480-an. EUR/USD menjangkau rekor tertinggi sepekan pada level paritas (1.000), sementara USD/JPY kembali mendekati level terendah pada kisaran 146.00. AUD/USD dan NZD/USD sempat terperosok pada sesi Asia, tetapi kemudian menanjak perlahan hingga kembali ke harga pembukaan saat berita ini ditulis.

Baca Juga:   Dolar Defensif Setelah Federal Reserve Lael Brainard Membicarakan Tingkat Kenaikan Suku Bunga September

Sentimen risk-on global juga memperoleh sokongan dari kemunculan kembali rumor tentang pelonggaran kebijakan Zero COVID di China. Rumor menyebutkan bahwa pemerintah China akan mengevaluasi pendekatan kebijakan tersebut, setelah lockdown pada lusinan kota besar di China mengakibatkan kemerosotan aktivitas ekonomi secara tajam.

Pejabat China menampik rumor tersebut, sembari menyatakan akan terus menanggapi penyebaran kasus COVID-19 dengan tegas. Para analis juga meragukan kebenaran rumor, tetapi para trader tampaknya memanfaatkan situasi untuk ambil untung pada awal pekan ini.

“Sentimen risk-on tampak nyata pada akhir pekan lalu, karena para spekulan cepat tanggap pada laporan (berita) bahwa China mungkin mengevaluasi kebijakan Zero COVID-nya,” kata Jane Foley, kepala strategi FX di Rabobank London.

“Orang-orang berpikir pada akhirnya akan segera ada pembukaan kembali (lockdown)… tetapi pembukaan kembali yang segera tidak nyata bagi saya, dan saya kira (spekulasi ini) agak prematur,” kata Alvin tan, kepala strategi FX Asia di RBC Capital Markets.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.