analisaforex

Dolar AS Jadi Jawara Di Tengah Badai Risk-off

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) menguat 0.2 persen lagi ke kisaran 94.50-an. Apresiasi greenback versus beragam mata uang lain terus berlanjut akibat tingginya sentimen risk-off di pasar keuangan. Sinyal perlambatan ekonomi di benua Eropa dan percaturan politik AS ikut berkontribusi dalam eskalasi ketidakpastian global.

Dolar AS Jadi Jawara Di Tengah Badai Risk-off

Sejumlah pihak membunyikan alarm peringatan terkait potensi peningkatan jumlah kasus infeksi virus Corona lebih lanjut. Sementara itu, pemerintah AS seolah-olah mengabaikan himbauan Federal Reserve bahwa perekonomian Amerika Serikat membutuhkan stimulus fiskal tambahan untuk mempertahankan pemulihan. Situasi ini mendorong investor semakin gencar menarik dana dari aset-aset berisiko lebih tinggi.

“(Aset) berisiko dijual lintas pasar, dan ada pelepasan posisi short dolar besar-besaran,” ungkap Yukio Ishizuki, pakar strategi forex dari Daiwa Securities, sebagaimana dilansir oleh Reuters, “Pertanyaan yang melingkupi virus Corona dan kebutuhan terhadap stimulus tambahan telah membalik arus (modal) kembali ke dolar.”

“Pasar ekuitas terus mengoreksi perjalanan luar biasa yang ditempuh pada 2020 dan saham-saham teknologi memimpin penurunan. Sayangnya, kebanyakan negara menghadapi gelombang kasus COVID-19 baru yang relatif kuat lagi setelah musim liburan, hal mana akan memunculkan pertanyaan terkait seberapa kuat pemulihan ekonomi yang akan kita lihat,” kata Marcus Widen, seorang ekonom dari SEB.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SELASA 03/12/2019 - DIRJEN PAPARKAN KENDALA PENGEMBANGAN EBT DIHADAPAN DPR

Saat berita ditulis, EUR/USD tertekan pada kisaran 1.1630-an dan AUD/USD sudah ambruk lebih dari 0.5 persen ke kisaran 0.7030-an. Greenback hanya lesu versus poundsterling. GBP/USD terdongkrak tipis ke kisaran 1.2750-an oleh rencana stimulus ekstra dari pemerintah Inggris serta optimisme dari meja perundingan dagang Inggris-Uni Eropa.

Para analis juga mencermati peningkatan prospek elektabilitas presiden AS Donald Trump dalam pemilu presiden mendatang, setelah meninggalnya Hakim Agung Ruth Bader Ginsberg. Hal ini berkaitan pula dengan upaya Trump saat ini untuk menunjuk sosok yang pro terhadap dirinya sebagai pengganti Ginsberg sesegera mungkin.

Bloomberg melaporkan Trump segan menjalankan serah jabatan damai seandainya rivalnya, Joe Biden, memenangkan pilpres pada bulan November. Ia konon mengatakan bahwa pemilu “akan berakhir di Mahkamah Agung”.

“Pound Inggris, dolar Aussie, dan emas sama-sama jatuh ke rekor terendah 2 bulan terhadap jawara dolar AS, yang menguat di tengah eskalasi ketidakpastian politik,” kata Jasper Lawler, Kepala Riset di LCG.

Sekedar menyegarkan ingatan, Trump merupakan kandidat presiden AS yang lebih disukai pasar daripada Joe Biden. Biden dikhawatirkan akan menaikkan pajak korporat dan menciutkan subsidi pemerintah, atau dengan kata lain “lebih pelit” ketimbang Trump yang telah melancarkan pemangkasan pajak korporat pada awal masa jabatan pertamanya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply