Dolar AS Berkonsolidasi Di Tengah Kebangkitan Momok Resesi

Indeks dolar AS (DXY) mengerucut dalam rentang antara 104.00-105.00 yang telah terbentuk sejak akhir pekan lalu. Testimoni Ketua The Fed Jerome Powell sejak hari Rabu kemarin hingga Kamis malam ini (23/6/2022) membangkitkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi perlambatan ekonomi, atau bahkan resesi. Konsekuensinya, terjadi aksi jual atas mata uang berisiko lebih tinggi dan peningkatan permintaan atas mata uang safe haven.

Dolar AS Berkonsolidasi Di Tengah Kebangkitan Momok Resesi

Jerome Powell mengatakan kepada Komite Perbankan Senat AS kemarin bahwa The Fed perlu melawan inflasi yang telah mencapai rekor tertinggi empat dekade pada tingkat 8.6% di bulan Mei lalu. Ia menegaskan urgensi untuk mendorong inflasi turun kembali ke tingkat 2%, sembari menyatakan akan mengerahkan semua instrumen kebijakannya untuk tujuan tersebut.

Senator Elizabeth Warren mengingatkan bahwa peningkatan suku bunga yang mendadak dapat mengakibatkan lonjakan PHK dan resesi. Namun, Powell menanggapinya dengan komitmen yang sama. Powell menekankan bahwa perekonomian AS cukup tangguh untuk menghadapi suku bunga yang lebih tinggi, meskipun ia mengakui bahwa perang di Ukraina dan masalah gangguan pasokan dapat meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

Baca Juga:   Dolar Kanada Di Dekat Posisi Terendah Dua Bulan Setelah Data Perdagangan

“(Resesi) itu jelas sekali mungkin terjadi,” kata Powell, “Itu bukan hasil yang kita inginkan sama sekali, tetapi itu jelas mungkin terjadi.”

“Kami tidak berupaya memprovokasi -dan saya kira kita tak perlu memprovokasi- sebuah resesi,” tambahnya, “Tetapi kami pikir sangat penting bagi kami untuk memulihkan stabilitas harga, benar-benar untuk kebaikan pasar tenaga kerja dan yang lainnya.”

Pernyataan Powell tersebut menambah kekhawatiran para investor dan trader terhadap potensi perlambatan ekonomi global. Konsekuensinya, mata uang-mata uang berisiko lebih tinggi mengalami aksi jual pada perdagangan hari ini. Sedangkan mata uang safe haven seperti dolar AS, yen Jepang, dan franc Swiss justru mengalami penguatan.

Marc Chandler, kepala strategi pasar di Bannockburn Global Forex, mengatakan bahwa pemain pasar terpecah antara mengakui prospek kenaikan suku bunga yang lebih tinggi diantara bank-bank sentral utama dan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari kebijakan tersebut. Kenaikan suku bunga lazimnya mendorong penguatan nilai tukar mata uang terkait, tetapi dampak perlambatan ekonomi tentunya akan buruk bagi mata uang yang sama.

Baca Juga:   Tepi USD / JPY Lebih Tinggi Menjelang Data Pekerjaan AS

“Sentimen berubah-ubah, sebagian karena kami tidak yakin kapan inflasi akan mencapai puncaknya,” kata Chandler. “Semuanya didorong oleh inflasi, ekspektasi inflasi dan kebijakan bank sentral.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.