analisaforex

Dolar AS Amblas Meski Data ADP dan ISM Ungguli Ekspektasi

Afiliasi IB XM Broker

Indeks Dolar AS (DXY) masih terpuruk pada kisaran terendah sejak pertengahan Mei dalam perdagangan hari ini (4/6). Sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis tadi malam menunjukkan situasi lebih baik dari ekspektasi, tetapi perlambatan ekonomi masih terus berlanjut. Efek lockdown menekan berbagai sektor ekonomi, meski banyak negara bagian sudah memulai normalisasi aktivitas ekonomi sejak akhir bulan lalu.

Dolar AS Amblas Meski Data ADP dan ISM Ungguli Ekspektasi

Automatic Data Processing (ADP), operator payroll terbesar AS, melaporkan telah terjadi perubahan pekerjaan sebesar -2,760k pada bulan Mei. Angka Employment Change tersebut lebih baik ketimbang estimasi yang dipatok pada -9,000k, maupun rekor -19,557k pada periode sebelumnya.

Institute for Supply Management (ISM) juga melaporkan bahwa skor Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sektor non-manufaktur AS meningkat dari 41.8 menjadi 45.4 dalam hasil survei bulan Mei, mengungguli estimasi yang hanya 44.0. Data senada dengan laporan PMI sektor manufaktur pada hari Senin yang menunjukkan perekonomian sudah keluar dari rekor terendah 11 tahun-nya. Akan tetapi, seluruh komponen laporan ini masih dalam kondisi kontraksi.

Baca Juga:   BERITA SAHAM KAMIS 26/12/2019 - SCCO TAMBAH MODAL DI PT SUPREME DECOLUXE

Perusahaan-perusahaan AS tampaknya tak ingin buru-buru merekrut pekerja lagi, walaupun peraturan lockdown telah dilonggarkan. Skor komponen ketenagakerjaan hanya naik tipis dari 30.0 menjadi 31.8. Hal ini meningkatkan kesangsian pasar pada data Non-farm Payroll (NFP) yang akan dirilis pada akhir pekan.

Hasil survei Reuters terhadap para ekonom menunjukkan perkiraan NFP akan jatuh hingga 8 juta pada bulan lalu, setelah mencetak rontok 20.5 juta pada periode sebelumnya. Tingkat pengangguran juga diperkirakan melonjak lagi dari 14.7 menjadi ke 19.7 persen. Jika benar demikian, maka artinya negeri Paman Sam memiliki jumlah pengangguran terbesar sejak pasca Perang Dunia II.

Di satu sisi, nilai tukar Dolar AS ditekan oleh peningkatan sentimen risk-on pada pasar global yang mendukung reli sejumlah rival USD seperti Aussie dan Sterling. Di sisi lain, pelaku pasar menyoroti perkembangan ekonomi Amerika Serikat di tengah ketidakpastian ini. Sekalipun pemulihan ekonomi dipastikan akan terjadi, tetapi ancaman pandemi COVID-19 gelombang kedua belum sirna. Apalagi gelombang demonstrasi anti-rasisme dan anti-kekerasan polisi semakin meluas di kota-kota besar Amerika Serikat, tanpa memperhatikan pembatasan sosial.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply