Data Ritel Inggris Terlalu Buruk, Sterling Tumbang

Pasangan mata uang GBP/USD tumbang sekitar 0.3 persen ke kisaran terendah sepekan pada level 1.3741 dalam perdagangan hari Jumat ini (17/9/2021). Menjelang penutupan perdagangan akhir pekan, Sterling tertekan lantaran rilis data penjualan ritel yang terlalu mengecewakan.

Data Ritel Inggris Terlalu Buruk Sterling Tumbang

UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa penyusutan 0.9 persen (Month-over-Month) dalam penjualan ritel Inggris bulan Agustus 2021, atau hanya sedikit lebih baik dibandingkan penurunan 2.8 persen pada bulan sebelumnya. Padahal, konsensus ekonom mengharapkan penjualan ritel Inggris pulih dan bertumbuh 0.5 persen pada periode tersebut. Keterpurukan berdampak pula pada jatuhnya pertumbuhan ritel tahunan dari 1.9 persen menjadi 0.0 persen.

Para analis masih berupaya menelaah biang kerok data penjualan ritel yang buruk. Sebagian mensinyalir kenaikan harga-harga yang terlalu pesat, alias lonjakan inflasi, telah mengakibatkan banyak orang segan berbelanja. Sebagian lagi menilai masyarakat mulai mengalihkan anggarannya dari belanja barang ke layanan jasa yang sebelumnya terkunci selama lockdown. Kedua latar belakang ini memungkinkan bank sentral Inggris (BoE) untuk menaikkan suku bunga pada paruh kedua tahun 2022, sesuai ekspektasi.

Baca Juga:   BERITA SAHAM HARI SELASA 23/03/2021 - MARJIN LABA USAHA INDOFOOD CBP NAIK JADI 19,7% PADA 2020

Ada pula yang memperkirakan bahwa masalah rantai pasokan mulai menimbulkan kelangkaan, sehingga perusahaan-perusahana Inggris mengalami kekurangan persediaan. Apabila masalah ini yang menjadi pokok perkara, maka BoE akan berpikir ulang tentang rencana kenaikan suku bunganya.

Sebagian besar pelaku pasar agaknya kini menilai data penjualan ritel dapat berdampak negatif pada kebijakan BoE, sehingga Sterling merosot signifikan. Namun, sejumlah analis menilai masih ada peluang bagi BoE untuk tetap bersikap optimistis pada prospek pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Untuk saat ini, GBP tertinggal dalam semalam dan bukannya lebih lemah secara materiil,” kata Daragh Maher, kepala strategi FX di HSBC AS, “Fakta bahwa GBP/USD pada dasarnya flat dan bukannya melemah secara materiil, menandakan (adanya) sejumlah ambiguitas tentang apa yang mengakibatkan melesetnya data.”

“Kami tidak bergerak dalam bisnis prakiraan inflasi (ataupun gaji), tetapi keseimbangan risiko pada perekonomian Inggris sekarang condong ke arah tekanan harga yang mendaki lebih lanjut, dan bertahan dalam kurun waktu lebih lama dari prakiraan sebelumnya,” kata Stephen Gallo dari BMO Capital Markets.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 13/07/2020 - LEGISLATOR NILAI PEMBAHASAN RUU REDENOMISASI BUKAN PRIORITAS

Gallo melanjutkan, “Kami mengakui bahwa tekanan gaji dan inflasi meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan produktivitas bukanlah fundamental jangka menengah yang baik bagi sebuah mata uang. Tapi kami juga memperkirakan latar belakang tadi untuk terus berpengaruh dalam sikap kebijakan moneter BoE yang terus berubah -jadi kami kira kemunduran GBP saat ini pada akhirnya akan memudar.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply