Data Ekonomi AS Lesu, Kurs Dolar Kian Memudar

Indeks dolar AS (DXY) menghadapi tekanan bearish lanjutan pada kisaran 102.15 dalam perdagangan hari Kamis (19/1/2023). Laporan penjualan ritel beserta beberapa data ekonomi terbaru lain dari negeri Paman Sam kompak meleset dari ekspektasi, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ancaman resesi.

Data Ekonomi AS Lesu Kurs Dolar Kian Memudar

Penjualan ritel AS bulan Desember 2022 membukukan penurunan paling tajam dalam setahun terakhir. Ini juga merupakan penurunan penjualan ritel untuk bulan kedua beruntun, sehingga mulai berdampak pada aktivitas produksi pabrikan. Hasil produksi manufaktur menorehkan penurunan paling tajam dalam dua tahun terakhir, sementara data inflasi produsen juga tumbang.

“Konsumen cenderung melakukan penghematan selama masa ketidakpastian ekonomi,” kata Jeffrey Roach, kepala ekonom di LPL Financial, sebagaimana dilansir oleh Reuters, “Jalur ekonomi melemah dan risiko resesi meningkat untuk 2023.”

Data-data secara keseluruhan menunjukkan permintaan konsumen yang lemah akibat tingkat bunga dan inflasi konsumen yang tinggi, beriringan dengan tanda-tanda pelemahan laju inflasi produsen. Keduanya merupakan argumen yang mendukung niat Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga dengan laju lebih kecil pada rapat kebijakan berikutnya, walaupun tak cukup lemah untuk mengakhiri siklus pengetatan moneter lebih cepat.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 30/12/2019 - IHSG SESI I DITUTUP MELEMAH 12,19 POIN KE LEVEL 6317,12

Federal Reserve AS tahun lalu telah menaikkan suku bunga sebanyak total 425 basis poin dari nyaris nol sampai rentang 4.25%-4.50%, sekaligus mencetak rekor tertinggi sejak akhir 2007. Hasil rapat FOMC Desember menunjukkan bahwa The Fed kemungkinan menaikkan suku bunga sebanyak 75 basis poin lagi dalam tahun 2023 demi menekan laju inflasi konsumen lebih lanjut.

Data Fedwatch CME menandakan pasar meyakini The Fed akan menaikkan 25 basis poin dalam rapat FOMC berikutnya tanggal 31 Januari-1 Februari. Besaran itu jauh lebih kecil dibandingkan kenaikan 75 basis poin beruntun sebelumnya, sehingga menekan kurs dolar AS.

Sementara itu, banyak pihak khawatir kondisi ekonomi Amerika Serikat bakal terus memburuk. Mayoritas ekonom kini memperkirakan AS akan terjun ke dalam resesi pada paruh kedua tahun 2023. Situasi mungkin akan lebih baik jika laju inflasi konsumen merosot lebih tajam, sehingga memotivasi The Fed untuk menyetop kenaikan suku bunga sebelum mencapai lebih dari 5.0%.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.