analisaforex

COVID-19 Delta Menghantam China, AUD/USD Terdesak

Afiliasi IB XM Broker

Dolar Australia tertekan pada kisaran 0.7320-an terhadap dolar AS dalam perdagangan hari Rabu ini (15/9/2021). Sejumlah faktor membebani Aussie, termasuk pernyataan dovish dari Gubernur Bank Sentral Australia (RBA) dan data-data ekonomi mengecewakan dari China.

COVID-19 Delta Menghantam China AUDUSD Terdesak

Data penjualan ritel dan aktivitas pabrikan China untuk bulan Agustus 2021 ternyata melambat lebih tajam daripada ekspektasi pasar. Penjualan ritel jatuh 2.5 persen, padahal sempat tumbuh 8.5 persen pada bulan Juli dan para analis mengharapkan kenaikan lanjutan sebesar 7.0 persen. Produksi industri juga selip ke 5.3 persen, setelah sempat meningkat 6.4 persen pada Juli.

“COVID-19 varian Delta memukul beberapa provinsi di China selama sekitar sebulan pada Juli-Agustus, memicu kebijakan penanggulangan yang ketat dan mengakibatkan gangguan signifikan pada aktivitas ekonomi, khususnya pada sektor jasa,” kata Hunter Chan, ekonom dari Standard Chartered, “Hujan dahsyat dan banjir (juga) menambah masalah.”

Laporan tersebut memupus sentimen positif pasar pada Yuan China dan Dolar Australia. Keduanya bahkan berisiko tertekan lebih lanjut akibat memburuknya sentimen global.

Baca Juga:   Harga Minyak Mentah Turun Memperpanjang Kerugian Ke Sesi Kedua Karena Investor Fokus Data Pasokan AS

“Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko dapat mengarah ke penurunan yang lebih dalam jika koreksi pasar ekuitas semakin menajam dan pemulihan China terhambat,” kata Peter Stoneham, analis pasar Reuters.

Kit Juckes dari Societe Generale sependapat. Katanya, “Dalam sebuah dunia risk-off, AUD. CAD. dan NZD semuanya melemah; dan AUD adalah yang paling rapuh diantara ketiganya. EUR kemungkinan mengungguli GBP, SEK, NOK, dan mata uang-mata uang yang sensitif risiko lain pada zona waktunya.”

Dari dalam negeri, Aussie juga terancam oleh arah kebijakan bank sentral yang semakin dovish. RBA sebelumnya diperkirakan akan menaikkan suku bunga tahun depan, tetapi baru-baru ini merevisi outlook perekonomiannya akibat dampak lockdown terkait COVID-19 Delta di seantero Australia.

Gubernur RBA Philip Lowe kemarin menegaskan bahwa kenaikan suku bunga mungkin takkan dapat dilaksanakan sebelum tahun 2024. Lockdown selama beberapa pekan di pusat-pusat pertumbuhan seperti Sydney dan Melbourne telah memotong jam kerja karyawan, sekaligus berisiko meningkatkan tingkat pengangguran dan memperlambat pertumbuhan gaji karyawan. Padahal, kenaikan suku bunga tak dapat dilaksanakan selama kondisi pasar tenaga kerja belum pulih ke tingkat yang lebih baik lagi dari situasi pra-pandemi.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply