analisaforex

Belanja Konsumen AS Meningkat, Dolar Berupaya Bangkit

Afiliasi IB XM Broker

Indeks dolar AS (DXY) terpantau bangkit sekitar 0.23 persen ke kisaran 92.10-an pada awal perdagangan sesi New York hari Jumat ini (30/7/2021). Namun, greenback belum mampu membalik seluruh penurunan yang diderita sejak pengumuman FOMC pada hari Rabu.

Belanja Konsumen AS Meningkat Dolar Berupaya Bangkit

Indeks dolar AS membukukan penurunan 1 persen selama sepekan ini. Apabila tak ada perubahan signifikan hingga penutupan perdagangan akhir pekan, kinerja USD akan menjadi yang terburuk sejak awal bulan Mei lalu.

Keterpurukan dolar AS bermula ketika pelaku pasar menyangsikan kesiapan Federal Reserve untuk memulai tapering di tengah gelombang pandemi COVID-19 Delta. Kekhawatiran terkonfirmasi dalam pernyataan hasil rapat FOMC dan konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell.

Powell mengatakan kepada media massa bahwa kenaikan suku bunga AS “masih jauh” dan pasar tenaga kerja masih punya “banyak hal yang perlu dicapai”. Komentar tesebut memukul kurs USD terhadap semua mata uang mayor.

Keesokan harinya, rilis data pertumbuhan ekonomi AS juga mengecewakan. Gross Domestic Product (GDP) di negeri Paman Sam hanya tumbuh 6.5 persen dalam kuartal II/2021, bukannya mencapai 8.5 persen sebagaimana diharapkan oleh pelaku pasar.

Baca Juga:   Dolar Sebagian Besar Lebih Tinggi Di Bagian Belakang Komentar Fed

Dolar AS baru memperoleh penopang hari ini, seusai rilis data belanja konsumen. Belanja konsumen meningkat 1.0 persen versus ekspektasi 0.7 persen pada bulan Juni 2021, sedangkan pendapatan personal tumbuh 0.1 persen versus ekspektasi -0.3 persen (Month-over-Month). Akselerasi program vaksinasi telah mendorong kenaikan permintaan jasa terkait traveling dan rekreasi, serta kenaikan harga-harga seiring dengan normalisasi aktivitas ekonomi.

Indeks harga PCE Inti juga meningkat 3.5 persen (Year-on-Year). Angka aktual meleset dari ekspektasi pasar yang dipatok pada 3.7 persen, tetapi unggul dibandingkan pertumbuhan 3.4 persen pada periode sebelumnya. Indeks harga PCE  inti merupakan barometer inflasi favorit The Fed, sehingga pertumbuhan 3.5 persen menandai kenaikan inflasi berkelanjutan di atas ambang target yang diinginkan bank sentral.

Dalam situasi normal, kenaikan inflasi seperti ini akan mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Sayangnya, kondisi pasar tenaga kerja dan indikator makro lain yang buruk di tengah pandemi justru memaksa bank-bank sentral untuk membiarkan suku bunga tetap rendah. Ketua The Fed secara khusus telah menyatakan pasca-FOMC kemarin bahwa pihaknya ingin adanya perbaikan lebih lanjut secara substansial dalam sektor ketenagakerjaan terlebih dahulu, sebelum mulai menaikkan suku bunga.

Baca Juga:   Aussie Makin Terpuruk Karena Melonjaknya Tingkat Pengangguran

Atas pertimbangan tersebut, imbas dari rilis data-data hari ini tak terlalu besar. Pelaku pasar selanjutnya akan memantau publikasi serangkaian data ketenagakerjaan AS pada hari Jumat pekan depan, termasuk Non-farm Payroll, tingkat pengangguran, dan pertumbuhan gaji.

“Meskipun dolar menderita kemunduran penting pekan ini, signifikansinya mungkin dapat ditelaah oleh Non-farm Payroll pekan depan,” kata Joe Manimbo, analis pasar senior Western Union Business Solutions, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply