Austria Lockdown Lagi, EUR/USD Amblas

Pasangan mata uang EUR/USD ambruk nyaris 1 persen hingga mencetak rekor terendah 16-bulan baru pada kisaran 1.1249 dalam perdagangan sesi Eropa hari ini (19/11/2021). Kemerosotan terpicu oleh diberlakukannya lockdown ketat di Austria. Jerman, negara terbesar di Zona Euro, juga tengah mempertimbangkan pemberlakuan pembatasan sosial lagi guna membendung lonjakan kasus COVID-19.

Austria Lockdown Lagi EURUSD Amblas

Austria beberapa hari lalu telah membatasi pergerakan sosial warganya yang belum menerima vaksin COVID-19, tetapi langkah tersebut agaknya dipandang kurang memadai. Hari ini, Austria mengubahnya menjadi lockdown penuh mulai Senin mendatang bagi semua orang guna menangani masalah kenaikan kasus infeksi COVID-19. Kanselir Alexander Schallenberg mengatakan lockdown akan berlangsung selama maksimum 20 hari. Austria juga akan mewajibkan warganya untuk mendapatkan vaksinasi per 1 Februari 2022.

Pelaku pasar khawatir kalau negara-negara anggota Zona Euro lain bakal mengikuti jejak Austria. Pasalnya, Menteri Kesehatan Jerman mengatakan bahwa pemerintahnya dapat memberlakukan pembatasan sosial lagi jika jumlah kasus COVID-19 terus meningkat.

“Satu hal yang pasti, jika seluruh Eropa mengalami lockdown sekali lagi, dan tergantung berapa lama hal itu berlangsung, kami perlu mempertimbangkan ulang skenario (prakiraan) pertumbuhan kami,” kata Stephane Ekolo, pakar strategi ekuitas global dari Tradition.

Baca Juga:   USD / CAD Naik Ke Tertinggi 6 Bulan, Data UoM

Pelemahan euro pada gilirannya justru mendongkrak nilai tukar dolar AS yang menjadi rival utamanya. Kurs euro juga amblas versus franc Swiss hingga EUR/CHF jatuh ke rekor terendah sejak Januari 2015. Sedangkan EUR/JPY terperosok nyaris 1 persen ke rentang terendah sebulan pada kisaran 127.90-an.

Selisih suku bunga juga membebani euro. Presiden ECB Christine Lagarde tadi sore menegaskan kembali bahwa bank sentral sebaiknya tidak mengetatkan kebijakan moneter agar tidak menghambat pemulihan ekonomi kawasan. Di sisi lain, Federal Reserve AS sudah mengumumkan permulaan tapering pada awal bulan ini dan kemungkinan menaikkan suku bunga pada tahun depan. Dalam situasi ini, pelaku pasar lebih suka berinvestasi pada Greenback daripada Single Currency.

“Kami kira kombinasi antara tapering The Fed dan perlambatan pertumbuhan global semestinya mendukung dolar AS pada 2022,” papar analis dari UBS dalam sebuah laporan terbaru yang dikutip oleh Reuters.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply