AS Akhiri Resesi Teknikal, Greenback Bangkit

Indeks dolar AS (DXY) menguat ke kisaran 111.00 dalam perdagangan sesi Eropa Jumat (28/10/2022), setelah sempat terperosok sampai 109.50-an pada hari perdagangan sebelumnya. Greenback terkatrol oleh rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat yang kinclong. Namun, para analis mengklaim sinyal resesi masih bercokol dalam perekonomian.

AS Akhiri Resesi Teknikal Greenback Bangkit

Laporan PDB AS menunjukkan pertumbuhan impresif sebeser 2.6 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal III/2022. Capaian tersebut menebus pertumbuhan negatif yang telah berlangsung selama kuartal pertama dan kedua, sekaligus melampaui estimasi konsensus yang hanya 2.4 persen.

Belanja konsumen AS tetap tangguh meskipun harga-harga barang dan jasa mengalami peningkatan. PDB AS juga tersokong oleh kenaikan ekspor, serta pemulihan investasi tetap non-hunian dan belanja pemerintah selama periode ini.

Investasi hunian mengalami penurunan lantaran peningkatan suku bunga The Fed. Kenaikan dalam kategori-kategori sebelumnya mampu mengimbangi penurunan tersebut. Namun, analis menilai kenaikan suku bunga lanjutan dapat semakin menekan pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Neraca perdagangan neto menambahkan 2.8 persen lebih banyak pada pertumbuham PDB, karena memudarnya gangguan rantai pasokan telah mendukung lonjakan dalam ekspor, sementara impor tertekan oleh permintaan konsumen yang lebih rendah,” kata Claire Fan, ekonom dari RBC Capital Markets.

Baca Juga:   BERITA SAHAM RABU 07/10/2020 - CIMB NIAGA GENJOT PENJUALAN ORI-018 MELALUI APLIKASI OCTO MOBILE

Fan menambahkan, “Tapi momentum pertumbuhan mulai memudar untuk sektor-sektor dalam perekonomian. Pasar perumahan merupakan salah satu yang melemah akibat Federal Reserve menaikkan suku bunga secara agresif untuk membatasi tekanan inflasi. Penjualan ritel juga telah melemah, terutama permintaan untuk barang-barang rumah tangga menurun. Hal itu berkontribusi pada timbunan inventaris yang besar pada tok-toko dan investasi inventaris yang lebih rendah diantara para peritel.”

Federal Reserve telah menaikkan suku bunga sebanyak lima kali dalam tahun ini, serta memeringatkan akan menaikkannya lagi dalam bulan-bulan mendatang. Hasil rapat FOMC September lalu mengisyaratkan bahwa suku bunga kemungkinan akan mencapai 4.5 persen pada akhir tahun ini, lalu naik lagi sampai 4.75 persen pada awal tahun depan.

“Peningkatan biaya pinjaman dalam perekonomian serta dolar yang kuat telah menciptakan beban berat. Pada saat yang sama, lingkungan eksternal yang lemah meningkatkan risiko pertumbuhan yang lemah,” kata James Smith, seorang ekonom dari ING, “Jadi, meskipun AS mungkin baru saja keluar dari resesi teknikal, angin yang berhembus akan makin dingin pada musim dingin ini dan membuat resesi terasa makin nyata pada awal 2023.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.