Ambil Untung Marak, Dolar AS Mantul Seusai Keterpurukan CPI

Aksi ambil untung marak dalam perdagangan hari Kamis (16/Mei). Situasi ini mendongkrak Indeks Dolar AS (DXY) sekitar 0.3% sampai 104.60-an pada awal sesi New York. Apalagi pasar masih kekurangan katalis untuk menekan Dixie lebih lanjut.

Dolar AS Mantul Seusai Keterpurukan CPI

Laporan CPI Amerika Serikat kemarin menunjukkan tingkat inflasi tahunan jatuh ke 3.6% pada bulan April 2024, level terendahnya dalam tiga tahun terakhir. Data tersebut memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada September, sehingga dolar AS terperosok dalam semua major pairs.

Beberapa rilis data ekonomi AS berikutnya juga mengecewakan, termasuk klaim pengangguran mingguan dan indeks Philly beberapa jam lalu. Kendati demikian, dolar AS berhasil bangkit di tengah maraknya aksi ambil untung dan minimnya katalis tambahan hari ini.

Data pasar saat ini masih menunjukkan peluang untuk pemangkasan suku bunga The Fed sebanyak dua kali sebelum akhir tahun, masing-masing sebesar 25 basis poin –sama dengan perkiraan pekan lalu. Dengan kata lain, data inflasi CPI kemarin hanya memperkuat ekspektasi pasar untuk pemangkasan September saja tanpa adanya peningkatan intensitas sikap dovish The Fed.

Baca Juga:   Aussie, Kiwi Lebih Tinggi Terhadap Dolar Setelah Data Australia Yang Unggul

Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, kemarin menegaskan pentingnya mempertahankan tingkat suku bunga saat ini dalam waktu lebih lama. Ia tidak berkomentar apa-apa mengenai rilis data inflasi CPI secara langsung, tetapi menekankan bahwa belanja masyarakat dan pasar properti AS jauh lebih tangguh daripada perkiraan sebelumnya. Oleh karena itu, ia berpendapat “kita mungkin perlu duduk di sini lebih lama sampai kita mengetahui arah inflasi sebelum kita mengambil kesimpulan apa pun”.

Pernyataan Kashkari mendorong sebagian pelaku pasar menunda aksi jual yang lebih masif atas dolar AS. Sejumlah pakar menyarankan agar melihat lebih banyak data inflasi terlebih dahulu.

Francesco Pesole, pakar strategi FX di ING, memaparkan, “Dalam praktiknya, tidak ada hal yang bisa (membuat kita) terlalu optimistis. Inflasi (Amerika Serikat) bergerak ke arah yang benar, tetapi masih belum sampai pada tingkat yang memungkinkan The Fed untuk menurunkan suku bunganya.”

Pesole mengungkap bahwa para investor sekarang sedang menantikan publikasi laporan inflasi Belanja Konsumsi Personal (PCE) pada akhir bulan ini. Sementara itu, “pandangan saya pada tahap ini adalah bahwa kita bisa saja terlempar ke dalam beberapa minggu lagi dengan volatilitas rendah, kurang arah, dan perdagangan yang terbatas pada kisaran tertentu.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Tinggalkan sebuah Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

DISCLAIMER :
  • Segala Informasi dan data dibuat sebaik mungkin namun tidak menjamin 100% keakuratannya.
  • Semua Artikel/Materi yang dihadirkan untuk tujuan edukasi.
  • Analisa.Forex Tidak mengajak ataupun mengharuskan untuk bertrading forex. forex, CFD, komoditas trading adalah beresiko tinggi, segala keputusan dan kerugian adalah tanggung jawab Anda (pengunjung/pembaca) sendiri.
  • Tidak menjamin kualitas ataupun kredibilitas atas link ke luar(pihak ketiga) berupa iklan berbayar, broker review, robot/EA, dsb.
  • Artikel/tulisan di web analisa.forex, boleh dijadikan di copy paste di situs lain, namun berdasarkan etika harus mencantumkan link balik ke situs analisa.forex
Peringatan Resiko : Trading Forex adalah salah satu bisnis online yang beresiko tinggi, jika anda memutuskan untuk menggelutinya pastikan anda berlatih dahulu dengan akun demo atau mencoba trading forex tanpa modal agar memahami betul seluk belum dunia trading online.